Enam Windu Sanggar Dewata Indonesia

0
3475

Terbuka untuk Seniman Luar Bali

Rudolf Bonnet,
Rudolf Bonnet, “Market Scene”, 1948. (Foto: Christie’s)

Seiring berkembangnya Sanggar Dewata yang semakin diperhitungkan, makin banyak seniman dari luar Bali yang ingin bergabung. Keadaan ini akhirnya membuat Gunarsa dan anggota lainnya sepakat untuk membuka Sanggar Dewata bagi seniman dari luar Bali dan mengubah namanya menjadi Sanggar Dewata Indonesia pada 1984.

Baca juga 10 Lukisan Old Master Indonesia Termahal Sepanjang Masa

Berdasarkan buku Narasi Sanggar Dewata Indonesia (2013), SDI didukung keberadaannya oleh seniman kontemporer Bali yang merasa tak lagi cocok menjadi pewaris, yang hanya meneruskan seni budaya Bali seperti karya-karya tradisional yang rumit dari era Batuan dan Pita Maha; sebuah perkumpulan seni rupa modern Bali yang diusung Cokorda Gde Agung Sukawati, Walter Spies, dan Rudolf Bonnet. Apalagi seni lukis klasik gaya wayang Kamasan yang sudah lebih lama keberadaannya.

Dengan hijrah ke Jawa, para calon perupa Bali, yang sebagian besar adalah pewaris budaya agraris lokal, mengalami guncangan kultural yang dahsyat. Akibatnya manifestasi luar dari kepribadian etnis mereka berubah bentuk.