Pelisaurus karangan Gunawan Tri Atmodjo ini menjadikan seks sebagai ramuan berbeda yang bukan sekadar legit tetapi mengenyangkan untuk dikunyah
Pelisaurus karangan Gunawan Tri Atmodjo ini menjadikan seks sebagai ramuan berbeda yang bukan sekadar legit tetapi mengenyangkan untuk dikunyah (Foto: Jacky Rachmansyah)

Seks selalu menjadi topik yang gurih dibicarakan sekaligus tabu untuk digunjingkan secara blak-blakan. Bisa jadi kupasan tentang seks seringnya hanya sebagai penglaris supaya bacaan manis dan orang tidak bosan membalikkan halaman sampai di penghujung. Namun, Pelisaurus karangan Gunawan Tri Atmodjo ini menjadikan seks sebagai ramuan berbeda yang bukan sekadar legit tetapi mengenyangkan untuk dikunyah.

Baca juga Merefleksikan Luka dengan Cinta Untuk Jakarta

Terangkum ada 22 cerita pendek (dan amat pendek) yang ada dalam Pelisaurus. Hampir semuanya bercerita seputar seks terutama aktivitas “menyenangkan diri sendiri” yang disebut penulis dengan ngloco.

Seperti pada Pelisaurus yang mengisahkan tentang tokoh “aku” yang teringat akan cinta lamanya. Dik Warti demikian panggilan perempuan istimewa tersebut adalah sosok perempuan sederhana, cenderung memiliki keringat berlebih dan nafsu makan yang kuat. Belum lagi garis-garis varises menghiasi betisnya yang semakin menggambarkan “kesederhanaannya”. Ya, penulis memang menggambarkan perempuan yang ditaksir tokoh utama sebagai perempuan yang nggak banget untuk dicintai anak zaman now.

Tapi, justru kebersahajaan sosok Dik Warti membuat tokoh utama jatuh cinta setengah mati. Sebagai informasi, Dik Warti juga bukan tipe perempuan yang mau diajak “bergumul” sebelum janur kuning melengkung, ini yang membuat si tokoh utama terpaksa menyelesaikan hasratnya sendiri. Dan suatu masa, sehabis ngloco, dia menggambar dinosaurus berkepala penis di dinding kamar mandi fakultas kampusnya.

Absurdnya, gambar itu tertengok oleh Dik Warti yang kebetulan menggunakan kamar mandi tersebut dan menjadi pemicu kandasnya hubungan mereka. Aneh? Memang. Bukannya cinta seringnya berakhir karena alasan-alasan sepele tak masuk akal?

Bisa dipastikan Pelisaurus punya muatan lebih intelek ketimbang sekadar ha-ha-hi-hi cerita personal penulis dan kumpulannya
Bisa dipastikan Pelisaurus punya muatan lebih intelek ketimbang sekadar ha-ha-hi-hi cerita personal penulis dan kumpulannya (Foto: Jacky Rachmansyah)

Baca juga Wayang-wayang Zaman Now…

Setelah Pelisaurus, cerita pendek menonjol lainnya ada Banci Gento yang membuat Anda terkejut betapa perubahan orientasi seks bisa saja terjadi karena pengalaman seru saru masa kecil.

Walaupun temanya jorok tapi ini bukan buku jorok dan penulis tidak melulu membahas soal masturbasi saja. Ada juga tentang tentang Shakespeare yang menulis ulang cerita-ceritanya supaya tak kalah saing dengan JK Rowling di Presisi di Kamar Ganti.

Tidak berhenti di situ, ungkapan-ungkapan nyeleneh dalam setiap percakapan ataupun isian ceritanya yang kalau ditimbang-timbang ada benarnya juga, menjadi muatan oke untuk direnungkan.  Misalnya seperti Anggap saja kalian tidak berjodoh dan lelaki itu beserta seluruh keluarganya adalah keturunan bajingan (hal 124). Atau konon dalam cinta sejati selalu ada pengampunan (hal 131) dan belum pernah aku merasa mampu memanajemen rindu sebaik ini (hal 12).

Baca juga Muslihat Yusi Avianto

Mungkin saja ketika menulis ini buku ini, Gunawan mendapat ilham lewat pengalaman pribadinya bersama rekan-rekan sepergaulan. Tapi, bisa dipastikan Pelisaurus punya muatan lebih intelek ketimbang sekadar ha-ha-hi-hi cerita personal penulis dan kumpulannya.

Judul                : Pelisaurus Dan Cerita Lainnya

Penulis             : Gunawan Tri Atmodjo

Penerbit          : Basa Basi

Tebal               : 200 halaman

Terbit              : 2017

Cover               : Softcover

penutup_small