Jasmerah: Pameran Perdana Old Master Koleksi Nasirun

0
721
Seniman Djoko Pekik sedang melihat salah satu karya di pameran Jasmerah

Bertepatan dengan hari kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 2018, Nasirun menggelar sebuah pameran seni di Indieart House, Yogyakarta. Pamerannya kali ini tidak memamerkan karya-karyanya, melainkan karya-karya seniman Old Master yang di koleksinya.

Pameran berjudul “Jasmerah” ini merupakan pameran perdana dari karya koleksi Nasirun yang menampilkan sedikitnya 76 karya dari 56 orang seniman, terdiri dari lukisan, sketsa dan patung. Nasirun memiliki kurang lebih 300 karya old master Indonesia yang telah di koleksinya sejak tahun 1997.

Mengapresiasi Yang Senior

Ketertarikan Nasirun mengkoleksi karya-karya old master disebabkan banyaknya karya seniman terdahulu yang tidak terapresiasi oleh publik saat terjadi booming seni rupa pada tahun 1997 di Indonesia. Nasirun mendapatkan karya-karya tersebut dari hubungan silaturahmi yang dijalinnya melalui keluarga seniman, ahli waris dan seniman nya sendiri.

Tidak banyak seniman Indonesia yang mengkoleksi karya seni. Walaupun telah mongkoleksi ratusan karya, Nasirun tetap enggan disebut sebagai kolektor. Baginya mengkoleksi adalah sebuah upaya untuk memperhatikan kesenian itu sendiri dan untuk memupuk semangatnya dari semangat seniman-seniman yang dikoleksinya.

(Dari kiri ke kanan) Kuss Indarto, Nasirun dan Erizal AS sedang bercengkrama di acara pembukaan pameran Jasmerah

“yang bikin saya tertarik untuk mengkoleksi karena saya melihat realitas bahwa pada tahun 1997, pada saat anak-anak muda mulai booming, para pendahulu kita yang tetap konsisten berkarya dan berjuang untuk kesenian tetapi karya mereka banyak yang tidak terapresiasi oleh publik.” Ucap Nasirun.

Nasirun merupakan seniman terkenal Indonesia yang sudah berpameran tunggal semenjak tahun 1993. Pria yang lahir di Cilacap 53 tahun lalu ini merupakan seniman lulusan dari ISI Yogyakarta yang pernah mendapatkan 3 penghargaan sekaligus dari Museum Rekor Indonesia (MURI) pada saat pameran tunggalnya yang bertajuk “RUN : Embracing Diversity” pada tahun 2016.

Penggunaan semboyan “Jasmerah” (Jangan Sesekali Meninggalkan Sejarah) yang dipopulerkan oleh Ir. Soekarno dalam pameran ini adalah  sebagai bentuk penghargaan kepada para seniman terdahulu yang berjuang melalui kesenian pada masa penjajahan hingga mempertahankan kemerdekaan..

“melihat karya-karya tahun 1922-1945 saya tidak pernah membayangkan di saat itu mereka tetap punya semangat berkesenian. jadi hal itulah yang menginspirasi saya untuk tetap semangat”. Ucap Nasirun

Nasirun juga mengharapkan pada setiap tanggal 17 Agustus, para seniman dan pemilik galeri bisa memiliki kegiatan untuk memperingati hari ulang tahun Republik Indonesia. Pameran ini dibuka oleh Sachro Wardi yang merupakan ketua Legiun Veteran kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Karya Bersejarah

Pameran ini dikurasi oleh Kuss Indarto yang merupakan seorang pengamat seni dan kurator independen dari Yogyakarta dan telah mengkurasi pameran seni semejak tahun 2002.

Dalam catatan kuratorial, Kuss menjelaskan bahwa pameran ini menampilkan karya-karya yang menggambarkan potongan peristiwa yang memiliki kaitan dengan sejarah tertentu. Entah itu sejarah perjuangan bangsa, sejarah sosial sebuah kawasan, sejarah personal, komunal, dan lainnya.

Pameran ini menyadarkan kembali kepada publik seni rupa akan betapa pentingnya sebuah dokumentasi. Dokumentasi tak bisa dilihat sebagai sekumpulan benda-benda lawas, lama dan mungkin kuno, namun sebagai segepok sejarah yang bisa dihidupkan kembali untuk membaca gerak peradaban dan kebudayaan pada kurun waktu jauh di belakang.

Adapun karya penting dan paling bersejarah pada pameran ini dapat dilihat dari karya sketsa Raden Saleh yang berjudul “Penangkapan Pangeran Diponegoro” (1857).

Karya Raden Saleh, Penangkapan Pangeran Diponegoro, 42 x 56 cm, Skecth On Paper, 1857
Karya Raden Saleh, Penangkapan Pangeran Diponegoro, 42 x 56 cm, Skecth On Paper, 1857

“Tidak jelas persisnya tanggal dan bulan pembuatan sketsa itu. Tapi dipastikan pada tahun 1857, sama persis dengan tahun pembuatan karya lukisan yang menjadi karya puncak Raden Saleh: “Penangkapan Diponegoro”. Sketsa itu memang sebuah rancangan karya untuk lukisan tersebut”. tulis kuss dalam catatan kuratorialnya.

Lukisan tersebut menggambarkan sebuah momen sejarah penangkapan Diponegoro oleh Kapten De Kock. Tidak hanya sebagai sebuah dokumentasi peristiwa, lukisan ini menggambarkan sebuah perlawanan politik dengan bahasa kultural yang dilakukan oleh Raden Saleh

Terdapat beberapa perbedaan pada sketsa dan lukisan “Penangkapan Diponegoro”, salah satunya pada karya sketsa terdapat sosok perempuan yang bersimpuh di kaki kiri Diponegoro, namun pada lukisan perempuan tersebut berpindah di kaki kanan Diponegoro. menurut Kuss, hal ini adalah upaya menyempurnakan aspek “dramaturgi” dari lukisan tersebut.

Sketsa “Penangkapan Diponegoro” ini didapatkan Nasirun langsung dari Werner Krauss, seorang kurator pameran tunggal 200 tahun lahirnya Raden Saleh di Galeri Nasional Indonesia pada tahun 2011.

Selain Raden Saleh, terdapat pelukis-pelukis Old Master terkenal lainnya, seperti Basuki Abdullah, Nashar, Henk Ngantung, Ahmad Sadali dan beberapa karya tanpa nama serta karya-karya dari para seniman terdahulu yang kurang mendapat tempat di panggung seni rupa Indonesia.


Pameran Seni Rupa Perjuangan Karya-Karya Old Master Koleksi Nasirun : Jasmerah

17-31 Agustus 2018, Indieart House

Jl. AS Saniawaat Barat No 99, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul. Yogyakarta

www.indiearthouse.com

Tiket : Free