Kelompok Jari Hembuskan Roh Lewat Eksplorasi Material

0
439
Pengunjung memperhatikan karya Jadilah Dirimu Bagian Dari Dunia Yang Terus Bergerak Dan Berputar dari Dedy Shofianto. (Dok. Riski Januar)

Menampilkan karya seni yang tidak biasa dalam wujud tiga dimensi, kelompok Jari mengadakan pameran dengan tajuk “To The Soul” yang dibuka pada hari Selasa, 14 Agustus 2018 di Ruang Dalam Art House, Yogyakarta.

Kelompok Jari di inisiasi oleh 5 orang anak muda yang terdiri dari Apri Susanto, Dedy Shofianto, Dery Pratama, Ivan Bestari, dan Ludira Yudha. Mereka menyuguhkan karya-karya seni eksperimental dengan eksplorasi bentuk dan material.

Apri Susanto mengatakan bahwa kelompok ini lahir dari kesamaan mereka dalam kesenangan mengolah material untuk membuat sebuah karya seni. Bermula dari perjumpaan mereka dalam sebuah project pameran di GAIA Cosmo Hotel Yogyakarta yang di inisiasi oleh Benda Art Management, Apri dan kawan-kawan sepakat untuk melebarkan sayap berkesenian mereka dengan cara membentuk sebuah kelompok seni rupa.

Pameran perdana kelompok ini dibuka oleh Dr. Oei Hong Djien (OHD) yang merupakan seorang kolektor dan pemilik dari OHD Museum di Kota Magelang, Jawa Tengah.

“Seni rupa Indonesia pada saat sekarang ini berada dalam posisi yang bagus sekali, seniman muda diharapkan untuk terus bereksplorasi dan pantang menyerah sebagai bagian dari masa depan seni rupa Indonesia” ucap OHD pada sambutan pembukaan pameran.

 

SOUL origin of show

“Tajuk To The Soul secara harfiah merupakan tafsiran dari sebuah keterampilan dan kekuatan untuk membuat atau menciptakan sesuatu yang memiliki jiwa atau roh,” tulis Bayu Wardana, kurator tetap Ruang Dalam dalam pengantar kuratorial pameran.

Dr. Oei Hong Djien di pembukaan pameran Kelompok Jari. (dok. Riski Januar)
Dr. Oei Hong Djien di pembukaan pameran Kelompok Jari. (dok. Riski Januar)

Soul (Roh) pada sebuah karya seni rupa adalah ungkapan untuk menggambarkan kekuatan karya yang mampu mencapai titik tertentu dari sebuah gagasan yang ingin disampaikan sehingga penikmat karya merasakan dan mengerti akan sesuatu yang ingin diungkapkan dalam karya tersebut.

Pameran ini menampilkan sedikitnya 12 karya yang terdiri dari berbagai bentuk pengolahan material berupa keramik, kayu, kaca, dan kawat yang diolah sedemikian rupa menjadi sebuah karya seni.

 

Apri Susanto

Dalam karya-karya yang disajikan, sedikit banyaknya kita mampu melihat sebuah proses dari upaya memberikan roh kedalam karya seni.

Seperti pada karya Apri Susanto, pria 29 tahun asal Kulon Progo ini menampilkan salah satu karya berjudul “Gong (Seri Petualangan Tanpa Batas)”. Seniman lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini, dikenal sebagai perupa yang konsisten memanfaatkan keramik sebagai media penciptaan karyanya. Kecintaan nya kepada keramik membawanya ikut mengagas komunitas Ruang Bakar pada awal tahun 2017 lalu, Komunitas ini bergerak dalam bidang edukasi tentang keramik.

Detail karya Apri Susanto, Gong, Seri Petualangan Tanpa Batas, variable dimention, stoneware bergelasir, kayu, besi dan matra,2018. (Dok. Riski Januar)
Detail karya Apri Susanto, Gong, Seri Petualangan Tanpa Batas, variable dimention, stoneware bergelasir, kayu, besi dan matra,2018. (Dok. Riski Januar)

Karya dengan judul “Gong”, merupakan sebuah seni instalasi berupa sebuah balok kayu yang menopang empat buah miniatur gong berwarna-warni.

Dalam proses penciptaan nya, Apri menemukan sebuah balok kayu tua bekas gong di sebuah lapak penjual kayu tua di Kota Yogyakarta. Apri melihat balok kayu ini sebagai sebuah presentasi waktu yang telah melakukan perjalanan panjang dan turut menjadi bagian dari kebudayaan jawa.

Apri Susanto di depan karya Memecah Kesunyian. (Dok. RIski Januar)
Apri Susanto di depan karya Memecah Kesunyian. (Dok. RIski Januar)

Balok kayu yang sebelumnya tidak disadari memiliki nilai dan makna kemudian dikembalikan identitasnya melalui 4 miniatur gong berbahan keramik. Hal ini sekiranya adalah upaya Apri dalam mengembalikan “roh” balok kayu dalam wujud dan nilai yang berbeda sehingga benda temuan tersebut kembali menjadi penting namun sebagai sebuah karya seni.

 

Ludira Yudha

Ludira Yudha, Pria kelahiran Lumajang 27 tahun yang lalu ini juga merupakan lulusan dari ISI Yogyakarta. Dalam usia yang masih tergolong muda sebagai seniman, Yudha telah menorehkan banyak prestasi diantaranya Sagu Hati Award di Penang Art Open (2015) dan Honorable Award di Nanjing International Sport Sculpture Competition (2013).

Pada pameran ini, Yudha mencoba merefleksikan pengalaman masa kecilnya melalui rajutan kawat yang membentuk unidentification object melalui karya yang berjudul “Unknown Organic Object No.4”.

Kesenangan mencabut rumput gulma di pekarangan rumahnya membuat Yudha mengamati bahwa pola, bentuk dan arah tumbuh akar rumput selalu berbeda dari rumput lainnya dan akar selalu tumbuh lebih panjang daripada daun di atas nya.

Dari momen sederhana tersebut, Yudha memahami bahwa begitu terbatas nya pengetahuan manusia. Pengalaman mencabut rumput tersebut menjadi semacam ingatan visual yang menuntun Yudha dalam membentuk objek dalam karyanya.

Ludira Yudha, Uknown Organic Object No 4, Galvanized Iron Wire, 270x150x80 cm, 2018, (dok. Riski Januar)
Ludira Yudha, Uknown Organic Object No 4, Galvanized Iron Wire, 270x150x80 cm, 2018, (dok. Riski Januar)

Lebih dari itu, aktivitas mencabut rumput bagi Yudha adalah sebuah kesenangan yang sarat dengan nilai-nilai filosofis bersifat subjektif. Pemahaman akan karya ini sejatinya merefleksikan diri penikmat karya akan bagaimana sebuah objek dinilai dan disepakati.

Seperti Apri dan Yudha, hal ini pun tampak dalam karya anggota kelompok Jari lainnya. pengalaman personal, intuisi, dan kecakapan dalam pengolahan material menjadi senjata utama dalam usaha untuk menghembuskan roh dalam karya-karya mereka. Karya-karya ini lahir dari hal yang tidak disengaja, tidak diduga atau bahkan dari sebuah kesalahan sekalipun.

 

Sarat Dengan Seni Eksperimental

Pameran kelompok Jari ini memberikan opsi lain dari segelintir pameran seni rupa di Yogyakarta. Karya-karya yang tampil bersifat eksploratif yang sarat dengan eksperimentasi akan bentuk maupun material.

Dibalik segala upaya untuk menghembuskan roh kedalam karya-karya mereka, karya pada pameran ini bersifat subjektif, ego merupakan kekuatan utama pembentuk visual yang kemudian menjadi suplemen atas keberanian dalam mengolah bentuk dan material.

Pameran ini sekiranya mampu menjadi penanda bagaimana seorang seniman muncul, tampil dan bereksplorasi dalam proses berkesenian yang tiada akhir.penutup_small

 


Kelompok Jari Exhibition : To The Soul

14-30 Agustus 2018, Ruang Dalam Art House

Jl. Kebayan, Gang Sawo no 55, Jeblok DK3 RT 02 Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul. Yogyakarta

www.ruangdalamart.com

Tiket : Free