10 Acara Seni Rupa Terpenting Selama 2017 dan 5 Karya Terbaiknya

0
9176

10. Jiwa: Jakarta Bienalle 2017 (5 November – 10 Desember 2017)

Jakarta pada rangkaian Jakarta Bienalle 2017
Karya Dolorosa Sinaga di Museum Sejarah Jakarta pada rangkaian Jakarta Bienalle 2017 (Foto: Jacky Rachmansyah)

Ada 51 seniman dan dihadirkan di tiga lokasi berbeda (Gudang Sarinah, Museum Seni Rupa & Keramik dan Museum Sejarah Jakarta) dan berlangsung selama sebulan lebih membuat acara seni ini menjadi sorotan selama di awal November hingga awal Desember. Hampir semua seniman menerjemahkan tema “jiwa” dengan persepsi yang kuat dengan membawa latar belakang lokalitasnya masing-masing.

Direktur Artistik Melati Suryodarmo bersama empat kurator Annisa Gultom, Hendro Wiyanto, Philippe Pirotte (Frankfurt) dan Vit Havranek (Praha) telah bekerja keras mengurasi karya-karya seniman yang masuk. Sehingga pesan yang majemuk mengenai wawasan  esensi hidup yang terpinggirkan dapat sampai kepada publik dengan lebih sederhana.

Baca juga Jakarta Biennale 2017, Dari Semsar Siahaan Sampai Seniman Afrika Selatan

Pengadaan acara di tiga ruang publik yang berbeda membuat acara ini menyasar pada cakupan massa yang luas. Membuat orang-orang yang tidak terpapar seni secara intens bisa memahami apa itu seni rupa dan kaitannya dengan kehidupan sosial budaya.

Karya Terbaik #5

I Made Djirna,
I Made Djirna, “Unsung Heroes”, variable dimension, instalasi mix media, batu gamping, 2017 (Foto: Jacky Rachmansyah)

Sulit untuk menetapkan satu yang terbaik karena ada banyak karya luar biasa di Jakarta Biennale 2017. Tapi, bisa dikatakan karya I Made Djirna yang paling menonjol. Lewat Unsung Heroes, Djirna membangun intalasi seperti hutan raksasa yang dibuat dari batu-batu apung yang sudah dipahat berbentuk wajah manusia, diikat sambung-menyambung baru kemudian digantung. Karya ini melambangkan pahlawan-pahlawan yang terlupakan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketakutan-ketakutan masa lalu; pelarian saat Gunung Agung meletus (1963) atau menyaksikan para tetangga yang dieksekusi karena dianggap simpatisan PKI telah membawa Djirna menciptakan karya “berjiwa” ini.