10 Bienial Seni Internasional 2018

0
4635

Gangwon International Biennale

3 Februari – 18 Maret 2018

Tema “The Dictionary of Evil”. Kurator Lee Yoo, Sook Hyun Cho, dan Hoon Suk Lee. Menampilkan 100-an karya 60 tim seniman dari 20 negara. Seniman yang terlibat antara lain Kim Seung-young, Lee Wan, Im Heung-soon, Walid Raad, dan Rafael Gomez Barros.

Gangwon International Biennale.
Gangwon International Biennale. (facebook,com/gwibiennale)

Gangwon International Biennale adalah festival kebudayaan untuk merayakan Olimpiade dan Paralimpiade Musim Dingin PyeongChang, bertempat di Pyeongchang, Provinsi Gangwon-do, Korea Selatan. Festival yang memakan biaya 2,9 triliun won atau setara Rp36 triliun ini adalah versi panjang dari PyeongChang Biennale yang dimulai pada 2013.

Tahun ini, dengan tema “The Dictionary of Evil”, Biennale dikurasi Lee Yoo, Sook Hyun Cho, dan Hoon Suk Lee. Lantas apa hubungan olah raga dengan acara seni? Kemanusiaanlah benang merahnya. Kemanusiaan, yang melatari karya-karya seni, juga tak dapat dipisahkan dari Olimpiade.

Realitas mesti ditampilkan, setragis apapun, itulah misi dasar Biennale. Dengan tema “Evil”, sejumlah contoh kelam akan dieksplor melalui perspektif seniman sekaligus mencoba memancing pertanyaan pengunjung.

Baca juga Adu Konsep Migrasi di Biennale Jogja XII

Sekitar 100 karya seni media, lukisan, patung, dan performans akan ditampilkan oleh 60 tim seniman dari 20 negara dengan topik yang sedang hangat, seperti krisis politik, pengungsi, kekerasan, imigrasi, identitas, perang, dan kekuasaan.

Seniman Korea yang berpartisipasi antara lain seniman instalasi Kim Seung-young, yang dikenal karena menggunakan material alami, seperti air, lumut, dan batu-batuan untuk mengkomunikasikan temanya. Ada pula Lee Wan, yang karyanya dipamerkan di Venice Biennale awal tahun ini.

Juga seniman media dan sutradara film Im Heung-soon, yang dokumenternya memenangi 2015 Silver Lion di the Venice Biennale. Dokumenter berjudul Factory Complex itu menyorot kondisi kerja yang keras yang dialami perempuan pekerja di Korea.

Seniman Amerika berdarah Libanon yang juga Associate Professor di School of Art di Cooper Union School of Art, Walid Raad, akan menyuguhkan karya yang berurusan dengan peristiwa traumatik semisal perang di kampung halamannya.

Seniman visual Kolumbia Rafael Gomez Barros, yang terkenal dengan karya patung-patung semut raksasa berbahan tengkorak manusia, akan menggali dwi-tema yang menjadi kekhasannya, mengekspresikan hasrat dan kenyataan, identitas dan anonimitas, serta individual dan masyarakat.

Info: http://gwbien.com