Bursa Seni Art Jakarta: Indonesia adalah Amerika

0
799
Gil Schneider di depan lukisan Entang Wiharso "Stain and Perception Skin Series" (2018), koleksi Mizuma Gallery (doc. Christian Razukas)

“Indonesia merupakan pasar seni terkuat di Asia Tenggara. Tingginya jumlah seniman dan kolektor membuat Indonesia menjadi Amerika-nya Asia Tenggara,” ungkap Gil Schneider, art fair consultant Art Jakarta 2018.

Begitulah pernyataan yang dilontarkan Gil di media tour Art Jakarta, 2 Agustus 2018. Namun ketika ditanya perihal penjualan karya di gelaran ini, ia merespons “Art is very private market”. Lalu bagaimana sesungguhnya bisnis yang berlangsung di balik Art Jakarta?

Berakhirnya gelaran ini sekaligus menandai 10 tahun terselenggaranya Art Jakarta yang sebelumnya bernama Bazaar Art. Selama rentang periode tersebut, Art Jakarta telah menjadi ajang pertemuan para kolektor, galeri, patron, seniman, dan pecinta seni. Awal penyelenggarananya dimulai pada 2009 dan ditujukan sebagai platform para galeri untuk memamerkan atau menjual karya seniman mereka, hingga lambat laun menjadi bursa seni terkenal dan paling dinantikan.

Pada edisi 2018, mereka hadir 51 galeri yang terdiri dari 20 galeri lokal dan 31 galeri luar negeri.  Sementara karya yang dipamerkan mencapai 510-an karya, dengan estimasi 10 karya per-galeri. Menariknya, karya-karya seniman muda menghiasi hampir sebagian besar galeri lokal, seperti Syagini Ratna Wulan di Roh Project, Kemal Ezedine, dll. Beberapa galeri luar juga tampak memamerkan karya-karya seni seniman tanah air, mulai dari Nashar di Art SEA Gallery-Singapore, Semsar Siahaan di Gajah GallerySingapore, Entang Wiharso* di Mizuma GallerySingapore, dan Heri Dono di The Columns-Korea.

Semsar Siahaan, Damned City (2003), Charcoal on Found Cardboard, koleksi Gajah Gallery (doc. Rafika Lifi)
Semsar Siahaan, Damned City (2003), Charcoal on Found Cardboard, koleksi Gajah Gallery, (doc. Rafika Lifi)

Baca juga Art Jakarta 2018 Hadirkan 51 Galeri Bagi Pecinta Seni

“Indonesia punya banyak seniman berbakat dan kolektor yang luar biasa, tapi galeri lokal di sini masih lemah dibandingkan di luar negeri. Makanya, banyak galeri luar yang mewakili seniman Indonesia” ungkap Gil.

Namun, ikut serta dalam gelaran bursa seni ini bukan perkara gampang. Untuk menyewa booth-nya saja, pemilik galeri mesti merogoh kocek sekitar 200—300 juta tergantung ukuran booth. Belum lagi transportasi karya hingga asuransi yang nilai preminya 2 kali nilai karya itu sendiri. Sementara harga karya yang dipamerkan tiap galeri cukup bervariasi, dari USD 230  hingga harga tertutup. Pihak Art Jakarta sendiri juga tidak menyimpan catatan penjualan tiap galeri karena art fair hanya berfungsi sebagai platform.

Pengunjung Art Jakarta di booth Sotheby, memamerkan karya-karya fashion Rinaldy A. Yunardi (doc. Dhamarista Intan)
Pengunjung Art Jakarta di booth Sotheby, memamerkan karya-karya fashion Rinaldy A. Yunardi (doc. Dhamarista Intan)

“Art Jakarta tidak melakukan track penjualan. Biasanya galeri sendiri yang mengatur soal jual beli. Art is a very private market,” papar Gil.

Beberapa galeri lokal yang enggan disebutkan namanya mengaku bahwa pihaknya lah yang langsung mengurus jual beli karya demi menjaga stabilitas pasar. Pun, mereka tidak pernah mematok target penjualan mengingat acara art fair tidak selalu meningkatkan daya jual galeri.

Baca juga Harapan ke Depan Museum MACAN

“Ikut art fair sebenarnya untung tidak untung. Syukur kalo terjual, kalaupun tidak juga bukan masalah. Jika ditotal, cost pamerannya saja bisa mencapai ratusan juta, bukan harga yang murah lah. Tapi, acara semacam ini memang untuk menguatkan networking sekaligus promosi”

Aktitas promosi terlihat dengan adanya kemunculan beberapa galeri baru seperti The Columns asal Korea. Galeri ini cukup memberikan kejutan dengan memamerkan karya-karya master gerakan Dansaekhwa atau minimalis Korea: Chung Sang Hwa, Ha Chong Hyun, Kim Tschang Yeul, Lee U fan, Lee Dong Yeob, Yun Hyong Heun. Karya Chung Sang Hwa dengan pigmen warna biru dan resin digoreskan dengan pisau palet secara berulang hingga membentuk susunan geometris. Pada 2016, salah satu seri biru ini pernah terjual dengan harga $800,000 di Art Basel Hongkong. Bahkan, karya-karya awal Chung Sang Hwa menembus angka $1,000,000. Para kolektor pun terlihat lalu lalang di The Columns sejak acara pembukaan.

Sabiq Al-Farisy, Our Kind of Truth, 2018 (doc. Vania Jesslyn)
Sabiq Al-Farisy, Our Kind of Truth (2018), (doc. Vania Jesslyn)

Meski galeri luar mendominasi gelaran ini, beberapa galeri lokal masih tetap konsisten berpartisipasi dari tahun ke tahun, salah satunya Zola Zolu Contemporary Art Gallery. Seniman perwakilan Zola Zolu, Richard Winkler, mengatakan bahwa pihaknya telah menjadi bagian Art Jakarta sejak pertama kali diadakan, “kami memang rajin ikut art fair karena dari situ kami merasa dekat dengan para pecinta seni”.

Akhirnya, bursa seni di Art Jakarta pun semakin terlihat titik terang ketika beberapa noktah merah pertanda terjual bertengger di beberapa caption karya, meski belum diketahui secara resmi berapa angka penjualan yang terkumpul.  Akan tetapi, gelaran bursa seni ini dapat memberikan angin segar bagi perkembangan bisnis seni di Indonesia.


*Saat ini juga berlangsung pameran tunggal Entang Wiharso di Can’s Gallery 5 Agustus—30 Agustus 2018, https://www.cansgallery.com/