Berteguh Iman pada Tebaran Daun

0
631
Teguh Ritma Iman, BERBURU IKAN
Teguh Ritma Iman, BERBURU IKAN, acrylic on canvas, 90x130cm, 2017). (Dok. Teguh Ritma Iman)

Lewat dominasi warna cerah dan suasana riang, karya-karya lukis Teguh Ritma Iman mengedepankan kedalaman makna. Fokusnya pada figur-figur yang berinteraksi wajar namun menunjukkan adanya ikatan batin, seperti ibu dengan anaknya atau bahkan nelayan dan ikan tangkapannya.

Tema tersebut muncul di banyak lukisan Iman, seperti Fish Seller (acrylic on canvas, 2015) tentang sekelompok perempuan dengan adegan yang terkelompok-kelompok. Seorang perempuan menyunggi keranjang, satu perempuan menunggu dagangan ikan di dalam keranjang, dan seorang ibu duduk berselonjor bermain dengan anak balita di pangkuannya.

Baca juga Enam Windu Sanggar Dewata Indonesia

Iman mengandalkan bidang luas dengan warna yang dicacah dan dilembutkan dengan pola-pola berwarna. Hasilnya, lukisan kombinasi figuratif dan ekspresif-dekoratif yang mirip sulaman atau mosaik. Tanpa ada pretensi pada dimensionalitas atau naturalisme seperti ciri lukisan ayahnya, Roesli Hakim, 82 tahun, pelukis era awal Kemerdekaan RI.

Teguh Ritma Iman, FISH SELLER
Teguh Ritma Iman, FISH SELLER, 2015. (Dok. Teguh Ritma Iman)

Daun beragam warna menjadi ciri khas lukisan Iman, umumnya “ditebarkan” sebagai latar belakang lukisan. Andai tak dijadikan latar belakang, daun akan dijumpai di pakaian, atau di kain panjang figur lukisannya, atau tersemat samar-samar di tempat lain. Dia jadikan daun sebagai simbol kehidupan, bahwa daun yang bertebaran ke bumi akan tumbuh kembali.

Ikan kerap juga muncul dalam karya-karyanya, walau tak sebanyak daun. Dia mewakilkan kebebasan pada liukan ikan yang dapat pergi ke mana suka di keluasan laut.

Baca juga Putu Sutawijaya dan Spektrum Spiritual Karyanya

Lukisan Berburu Ikan (acrylic on canvas, 90x130cm, 2017), tentang nelayan sedang menebarkan jaring di atas gerombolan ikan di laut, adalah salah satu karya istimewa Iman. Bukan hanya tentang tangkapan hari ini, lebih jauh, lukisan itu menggambarkan hubungan manusia dengan ikan, betapa karakter manusia saat siang menjadi berbeda jauh saat malam, serta “kerelaan” ikan masuk dalam jaring nelayan.

Saat kuliah di ISI Yogyakarta, Iman tergabung dalam Kelompok 11 Sanggar Dewata Indonesia (SDI) dan Spirit 90 (angkatan 1990 ISI Yogyakarta). Dua organisasi informal para perupa ini memunculkan nama-nama perupa Bali tangguh, seperti Nyoman Sukari, Made Sumadiyasa, Putu Sutawijaya, Pande Ketut Taman, Made Mahendra Mangku, dan Made Wiradana.

Kelompok 11 beberapa kali sukses mengadakan pameran pada era 1990-an hingga menciptakan “bom seni rupa” dengan rentang harga lukisan Rp 15 juta hingga Rp 25 juta, angka yang lumayan tinggi saat itu.

Teguh Ritma Iman
Teguh Ritma Iman di depan karyanya, FULL MOON (2017). (Dokpri Teguh Ritma Iman)

Teguh Ritma Iman

Lahir di Denpasar, 19 Juni 1970

Pendidikan

1986- 1989 SMSR Negeri-Bali

1990-1996 Fakultas Seni Murni – ISI Yogyakarta

Penghargaan

  • 1996: Finalis Phillip Morris Indonesia Art Award 3 Jakarta
  • 1991: Best Oil Painting FSR – ISI Yogyakarta
  • 1990: Best Watercolor and Sketch from ISI Yogyakarta

Baca juga Mencari Pencerahan di Pekan Seni Jogja

Pameran Penting

  • 2018: “On Fire” di Kaktus Art Space, Sanur
  • 2015: “Women in Life” di Ganesha Gallery, Bali
  • 2014: “Women” di Rythma Fine Art, Sanur
  • 2014: “Singapura Art Fair” Purpa Gallery Seminyak; “Colek Pamor” Sanggar Dewata di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud.
  • 2013: “Irony in Paradise” SDI di ARMA, Ubud
  • 2011: “Spirit 90” di Santrian Gallery, Sanur.
  • 2010: “Bali Beyond” bersama Sanggar Dewata di Bentara Budaya, Bali.
Kelompok 11. Kelompok Sebelas, SDI, Sanggar Dewata
Kelompok 11 Sanggar Dewata Indonesia (ki-ka): Putu Sutawijaya (kaos coklat), Ida Bagus Krisna (belakang, baju hitam), Made Sumadiyasa (kemeja putih), Pande Ketut Taman (pakai bandana), Sukari (jaket putih), Teguh Ritma Iman (belakang Sukari), Dewa Kompyang Setiawan (kiri Iman),Made Wiradana (kiri Sukari, jaket hitam), Ketut Tenang (kemeja kotak-kotak), Wayan Sunadi (kacamata hitam), Mahendra Mangku (duduk). (Dok. Teguh Ritma Iman)

Milestone

1998 Setamat kuliah, Teguh Ritma Iman memutuskan pulang, menetap, dan berkarya di Bali. Seorang kurator seni dari Jerman datang dan menyampaikan tiga karya Iman akan diikutkan dalam pameran “Die Sammlung des Palastes von Badung” di Galery Fahrenhorst, Hemeln, Jerman. Dua lukisannya terjual di acara itu.

2002 Dunia seni di Bali mendadak sepi, terkena imbas peristiwa bom Bali I. Dengan uang pas-pasan Iman memberanikan diri menyewa tempat selama setahun di Sanur untuk dijadikan galeri bernama Ritma Art Studio. Galeri didatangi tamu yang ingin melihat dan mengoleksi karya, sehingga dari yang setahun sebagai langkah awal, akhirnya dapat bertahan selama delapan tahun.

2018 Memprakarsai berdirinya Kaktus Art Space di Jl. Mertasari No.8, Sanur, Denpasar.

Baca juga Karya Monumental hingga Refleksi Sinis Pande Ketut Taman

Karya Penting

  • Berburu Ikan (2017)
  • Menatap Harapan (2007)
  • Selling Fish (2007)
  • Full Moon (2017)

Perupa yang dikagumi

  • Affandi
  • Nyoman Gunarsa
  • Van Gogh
  • Roesli Hakim

Kolektor

  • Widy Tarmizi
  • Oka Mahendra
  • Peter Van Hien, Belanda
  • Volker Neumann, Jerman
  • BW Ibsen, Denmark
  • Cush-Cush Galery penutup_small