Karya Monumental hingga Refleksi Sinis Pande Ketut Taman

0
1199
Pande Ketut Taman, MENYENTUH LANGIT
Pande Ketut Taman, MENYENTUH LANGIT, mixed media, 2005. (Komaneka,com)

Karya-karya Pande Ketut Taman merepresentasikan hubungan batiniah manusia dengan alam. Gaya lukisan dan pahatannya banyak beraliran semi-abstrak figuratif dengan penggunaan material kayu, batang, dan akar pohon.

Di samping alam, akulturasi antara tradisi-modernisme, Hindu-Islam, dan Bali-Jawa sempat mewarnai tema kesenian Taman pada awal 2000.

Untuk pahatan, Taman rupanya lebih memilih berkarya dengan ukuran monumental, seringkali menggambarkan sosok manusia yang diukir secara ekspresif di pohon ataupun kayu, sebagaimana kisah-kisah mitologi Hindu kuno.

Salah satu karyanya, Meluruskan Sejarah (1990) mendapat banyak perhatian dari para kritikus seni.  Karya ini adalah refleksi sinis Taman terhadap manipulasi pemberangusan sejarah komunisme, kejatuhan Sukarno, dan peristiwa penting lainnya dalam sejarah Nasional.

Pande Ketut Taman, MELURUSKAN SEJARAH
Pande Ketut Taman, MELURUSKAN SEJARAH, 1999, oil on canvas, 150×400 cm. (Gustra, Neka Art Museum dalam buku Balinese Art oleh Adrian Vickers)

Pande Ketut Taman adalah seniman lintas disiplin, pelukis dan pematung. Teknik lukisnya lebih banyak kembali ke representasi figur alam, mencerminkan minatnya pada bentuk dan bahan alam. Taman sendiri dikenal mampu mengawinkan lukisan Bali modern dan seni dunia kontemporer, dapat dilihat dari karya-karya terbarunya yang cenderung semi abstrak figuratif. Sapuan kuasnya tegas dibarengi dengan warna-warna tanah yang kuat.

Pande Ketut Taman dan I Nyoman Sukari tergabung ke dalam Kelompok 11 Sanggar Dewata Indonesia. Mereka termasuk ke dalam angkatan 90 SDI, yang melahirkan pula beberapa seniman terkenal, seperti I Nyoman Sukari, Made Sumadiyasa, Putu Sutawijaya, Made Mahendra Mangku, dan Made Wiradana. Kelompok ini juga sering mendominasi di Bali Biennale.

Taman masih aktif mengadakan pameran dengan kelompok 11. Akulturasi dalam gaya keseniannya menjadi pembeda di seni kontemporer Indonesia.

Taman mampu mengawinkan akulturasi budaya Bali-Jawa, dan Hindu-Islam yang kerap kali luput dari refleksi seni kontemporer. Ia piawai mengisi relung kosong di kesenian Indonesia.

Pande Ketut Taman
Pande Ketut Taman. (Foto: Istimewa)

Pande Ketut Taman

Lahir: 1970

1987 –1991 SMSR Negeri Denpasar

1992 –1998 Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta

Address: Jl. Sanjaya No.9, Jagalan Lor, Muntilan Magelang Jawa Tengah 56414

Pameran Penting

Pameran pertama: Group Exhibition “Harkitnas”at Art Center Bali (1989)

Pameran tunggal pertama: Solo Exhibition “Luh luih”at Art Folio in Singapore (2000)

Pameran terakhir: ART/JOG/13 Maritime Culture (2013)

Penghargaan

  • 2005    Excellent Achievement award, Bali Biennale
  • 1999    Lempad Prize dari Sanggar Dewata Indonesia
  • 1998    Penghargaan dari Menteri Seni dan Budaya Indonesia
  • 1997    Karya terbaik Dies Natalies ISI Yogyakarta
  • 1992    Karya lukis terbaik ISI Yogyakarta

Milestone

Pada 2005 meraih Excellent Achievement dari Bali Biennale dengan karya berjudul “Menyentuh Langit”. Karya in terdiri dari beragam jenis figur yang disusun spiral dan menjulang, refleksi estetik atas konsep satyam sivam sundharam, adonan antara kebenaran, kekuatan, dan keindahan.. Menyentuh Langit dianggap oleh Dewan Juri sebagai pencapaian estetika luar biasa dalam konsep dan bentuk visual.

Pada 2008, lukisan Berisi Kosong, Kosong Terisi terjual di Sotheby’s Hongkong sebesar 112.500 HKD. Angka tersebut jauh di atas perkiraan yang sebesar 40 ribu — 60 ribu HKD.

Karya Penting

  • Meluruskan Sejarah (1990)
  • Menyentuh Langit (2000)
  • Merah Putih (2001)
  • Neighbor Blossom (2005)
  • I Among Them (2008)

Kolektor

  • Oei Hong Djien
  • Lin Che Wei
  • Inggil Gallery
  • Komaneka Fine Art Gallery

Perupa yang dikagumi

  • I Nyoman Erawan
  • I Made Djirna
  • Made Budhiana