Kompetisi Kolaborasi Anggar dan Laksmi

0
394

Dua perupa, keduanya suami-istri. Usia hanya terpaut setahun, sama-sama di bidang seni lukis, sama-sama aktif berpameran, dan sama-sama langganan mendapat penghargaan. Apakah ini bentuk kolaborasi? Ataukah mereka berkompetisi?

Di salah satu sudut kota Yogyakarta, seniman Anggar Prasetyo dan Laksmi Shitaresmi hidup bersama membina keluarga. Menjadi pasangan seniman tidak membuat keduanya serupa dalam hal kekaryaan, melainkan bertolak belakang hampir 180 derajat. Meski begitu, keduanya tetap aktif berkarya sejak dua dekade lalu di jagad seni rupa Indonesia maupun internasional. Hal ini tentunya mengundang perhatian, perihal kolaborasi dan kompetisi yang terjadi di antara pasangan ini sebagai pelaku seni Tanah Air.

Anggar Prasetyo dan Laksmi Shitaresmi
Anggar Prasetyo dan Laksmi Shitaresmi. Kolaborasi atau kompetisi? (Foto: Jacky Rachmansyah)

Laksmi Shitaresmi dikenal lewat karya-karya surealis figuratif  yang kental dengan unsur tradisi. Ia menggunakan patung, lukisan, atau instalasi sebagai refleksi kehidupan pribadinya yang berpondasi pada budaya Jawa yang kental. Nilai dan filosofi Jawa tersebut disampaikan lewat rupa potret diri, perempuan, hewan, atau tumbuhan. Lahir pada 9 Mei 1974, Laksmi menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada 1992-1998. Meski begitu, proses kekaryaannya sudah dimulai sejak 1987 dengan terlibat di pameran Indonesia-Japan Painting Exhibition di Tokyo, Jepang. Seniman 44 tahun ini telah menggelar pameran tunggal trilogi di tiga tempat bertajuk “LAKON” di tahun 2012 dan 2014, yang bercerita tentang perannya sebagai ibu, istri, dan seniman.

Baca juga Tak Selalu Manis, Indonesia dalam Karya Potret

Sedangkan Anggar Prasetyo merupakan seniman yang kerap menggunakan teknik emboss pada karya lukisnya, menghasilkan ilusi tiga dimensi yang tampak muncul ke permukaan. Namanya melejit saat diumumkan sebagai pemenang dari UOB Painting of the Year Indonesia dan UOB Painting of the Year Southeast Asia di tahun 2015 melalui karya bertajuk Exploitation of Fish. Karya tersebut menjadi bentuk keprihatinan atas tidak stabilnya ekosistem ikan di laut Indonesia akibat penangkapan yang berlebihan.

'Perempuan yang Diwanitakan', Charcoal, Drawing Pen, Acrylic, Fiberglass & Polyurethane Painted on Canvas, 120 cm (H) x 100 cm (W) 2016
Laksmi Shitaresmi. Perempuan yang Diwanitakan. Charcoal, Drawing Pen, Acrylic, Fiberglass & Polyurethane Painted on Canvas, 120 cm x 100 cm, 2016 (Sumber: Rachel Gallery)

Pertemuan keduanya dimulai pada tahun 1995. Saat itu Laksmi adalah junior dari Anggar yang  masuk pada tahun 1991 di kampus ISI Yogyakarta. Diakui Laksmi, masa-masa pacaran dengan Anggar seringkali dibumbui perdebatan, khususnya tentang dunia seni rupa. Perbedaan cara pandang membuat mereka bersitegang, namun juga menghasilkan dialog yang intens dan pemahaman lebih dalam satu sama lain. Dari proses mengenal yang cukup lama, mereka memutuskan untuk menikah pada akhir 1999.

Baca juga Pasar Seni Rebound, Tiongkok Ada di Puncak

Jika dilihat dari segi kekaryaan, Anggar dan Laksmi berangkat dari idealisme yang berbeda. Anggar tampak mengedepankan bentuk, sedangkan Laksmi lebih menitikberatkan isi. Sejak lama, Anggar bereksplorasi dan mengasah kemampuannya untuk menampilkan tekstur dan guratan yang tampak berdimensi. Teknik emboss yang ditekuninya menghasilkan ilusi optik, yang begitu menggelitik penonton untuk meraba—yang tentu dilarang—dan melihat lukisannya dari jarak dekat. Namun ternyata objek-objek yang ditampilkannya tidak muncul ke permukaan.

Exploitation of Fish, Anggar Prasetyo. mixed media on canvas, 175x175cm, 2015
Anggar Prasetyo. Exploitation of Fish, mixed media on canvas, 175x175cm, 2015 (Foto: Jacky Rachmansyah)

Teknik emboss yang digunakan Anggar merupakan gabungan dari seni patung dan seni lukis. Anggar terlebih dahulu membuat relief tiga dimensi, untuk dicetak dari balik kanvas. Prinsip kerjanya hampir mirip dengan aktivitas menjiplak uang logam dari balik kertas dan mengarsirnya dengan pensil. Dari situlah lahir karya-karya Anggar yang banyak mengeksplorasi tekstur kain, kertas, kayu, hingga batu. Bagi Anggar, mengedepankan unsur formalis seni rupa seperti tekstur, bidang, warna, dan goresan begitu penting.

Berbeda dengan Laksmi, yang menitikberatkan pada isi dan menjadikan karya sebagai media penyampaian gagasan. Ia selalu berangkat dari kehidupannya sendiri dan menjadikan karya sebagai media terapi, meluapkan berbagai kisah yang dialaminya sebagai perempuan yang hidup dalam kentalnya tradisi Jawa. Alhasil, karya-karya Laksmi selalu menghadirkan cerita yang mendalam dan personal lewat berbagai simbol yang memiliki nilai filosofis Jawa.

Baca juga Sidik Painting, Sapuan Baru Kuas Sidik Martowidjojo

Meski lebih muda setahun dari Anggar, Laksmi memulai kiprah berkeseniannya lebih dulu di tahun 1987. Total ada 11 pameran tunggal yang telah dihelat Laksmi, lebih unggul dari Anggar yang baru 6 kali tampil solo. Meski begitu, posisi unggul diperoleh Anggar dari jumlah penghargaan yang telah diterima.

Bagi keduanya, kompetisi bukanlah perihal menang atau kalah. “Sebagai pribadi yang menjadi seniman, saya cenderung berkarya sebagai cara menjalani hidup. Seniman ya berkarya, jadi saling mendukung agar bisa sama-sama terus berpameran,” ujar Anggar.

Sedangkan Laksmi berpendapat bahwa kompetisi bisa dimaknai sebagai “memacu dan memicu semangat”, yang mendorong satu sama lain untuk berkarya. Satu sama lain saling menantang agar tak ada yang tertinggal jauh dan berkarier demi keberlangsungan keluarga.

tales of the tape_240518