Putu Sutawijaya dan Spektrum Spiritual Karyanya

0
883
Putu Sutawijaya
Putu Sutawijaya (Dok. aroesartgallery.com)

Putu Sutawijaya membuat Looking for Wings (2002) begitu menyelesaikan ilustrasi novel Anak Bajang Menggiring Angin karya Sindhunata. Judul novel itulah ilhamnya hingga jadi sosok-sosok manusia bersayap memegang gelas wine. Sempat tidak laku ketika setahun kemudian dipamerkan di Galeri Nasional, namun menemukan takdir barunya di balai lelang Sotheby’s Singapura pada 2007.

Putu, yang lahir bukan dari orangtua seniman (ayahnya pegawai dan petani, ibunya pedagang), awalnya tak memiliki minat pada dunia seni rupa. Keterampilan menggambar dianggapnya terberi saja sebagai orang Bali.

Keinginan belajar secara otodidak, serta menyadari bakat yang ada di dirinya, tersulut ketika teman-temannya sering dikirim sekolah mengikuti lomba gambar. Tak butuh waktu lama, kemampuannya menggambar dapat menyamai kepandaian teman-temannya yang mengikuti lomba.

Looking for Wings karya Putu Sutawijaya. (Dok. Artnet)
Looking for Wings karya Putu Sutawijaya. (Dok. Artnet)

 

Putu Sutawijaya adalah seniman lintas disiplin, yakni pelukis, pematung, serta penampil (performance artist). Teknik lukisnya banyak dipengaruhi kaligrafi Tiongkok. Dia melukis menggunakan tinta cina sebab dirasa memberikan roh ke dalam kanvasnya.

Putu membuat karya tentang tubuh manusia, baik dalam bentuk ekspresif maupun sebagai wadah dari roh. Temanya ritual agama dan keseharian masyarakat Bali. Karya lukis Putu dinilai memiliki energi yang kuat.

Bersama rekan-rekannya di ISI Yogyakarta beberapa kali sukses mengadakan pameran pada era 1990-an hingga menciptakan “bom seni rupa” dengan rentang harga lukisan Rp 15 juta hingga Rp 25 juta, angka yang lumayan tinggi saat itu.

Putu Sutawijaya dan I Nyoman Sukari tergabung dalam Kelompok 11 Sanggar Dewata Indonesia (SDI) dan Spirit 90 (angkatan 1990 ISI Yogyakarta). Dua organisasi informal para perupa ini memunculkan nama-nama perupa Bali tangguh, seperti Nyoman Sukari, Made Sumadiyasa, Putu Sutawijaya, Pande Ketut Taman, Made Mahendra Mangku, dan Made Wiradana.

Putu Sutawijaya mendirikan Sangkring Art Space di Nitiprayan, Yogyakarta pada 31 Mei 2007.

“Sangkring” diambil dari nama leluhur Putu, dengan maksud mempertautkan diri dengan masa lalu sekaligus motivasi untuk melangkah ke depan dalam proses kreatif seni rupa.

Sangkring Art Space menjadi tempat berkegiatan seni, mulai pameran, pentas musik, studio rekaman, serta tempat berkumpulnya berbagai kelompok seni, akademisi, pemilik galeri, serta pialang seni dari banyak kota dunia.

Dok. aroesartgallery.com
Dok. bbm.kemdikbud.go.id

Putu Sutawijaya

1970 | Tabanan, Bali, 27 November

1987-1991 | Sekolah Menengah Seni Rupa Denpasar, Bali

1991-1998 | Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia, Yogyakarta

 

Pameran Penting

  • Pameran pertama: Pameran bersama berjudul “Visit Indonesia Year’s” di Denpasar Bali pada 1991.
  • Pameran tunggal pertama: “Energy” di Bentara Budaya Yogyakarta pada 1998.
  • Pameran pertama di luar negeri: “Energy” di Gajah Gallery, Singapura pada 1999.

Analisa/Evaluasi

Karya-karya Putu adalah ekspresionisme simbolik Bali. Gesturnya bermain di spektrum spiritual dan emosional, dari kontemplasi, kesedihan, hingga kegembiraan. Semangat tersebut dituangkan melalui “kode-kode”, seperti adanya unsur-unsur tarian Bali, teks, dan energi manusia.

Penghargaan

  • Best Water Colour and Sketch dari Institut Seni Indonesia, Yogyakarta (1991)
  • Best Oil Painting dari Institut Seni Indonesia, Yogyakarta (1992)
  • Best Painting Dies Natalis 11 Institut Seni Indonesia, Yogyakarta (1995)
  • Best 10 Phillip Morris – International Art Award (1999)
  • Lempad Prize dari Sanggar Dewata Indonesia (2000)

Milestone

– 2007

Looking for Wings (2002) terjual di balai lelang Sotheby’s dengan harga 114 ribu SGD (173 ribu USD) pada April 2007. Angka tersebut jauh di atas harga perkiraan yang hanya 7 ribu – 9 ribu SGD.

Peristiwa yang dijuluki “Insiden Mei 2007” itu memicu ledakan seni rupa kontemporer Indonesia di Asia Tenggara dan membuat Indonesia diperhitungkan sebagai surga baru perburuan karya seni kontemporer, selain Tiongkok dan India.

– 2010

Pada 2010, Putu mengadakan pameran tunggal “Gesticulation” di Bentara Budaya Bali, menandai transformasi karya-karyanya, dari dua dimensi menjadi  tiga dimensi.

Putu memamerkan karyanya yang berupa patung logam, representasi tubuh manusia yang mengekspresikan keceriaan, kecemasan, serta penderitaan.

Residensi

  • Der Kulturen Museum di Basel, Swiss (2001)
  • Valentine Willie Fine Art and Gudang Kuala Lumpur, Malaysia (2006)
  • Valentine Willie Fine Art and Patisatu Studio, Kuala Lumpur, Malaysia (2007)

Karya Penting

  • Looking for Wings (2002)
  • Sang Pemimpi (2003)
  • Bukan Pohon Terakhir (2008)
  • The Dance Of Remembering #1 (2014)
  • Jumping #1 (2008)

Kolektor

  • Oei Hong Djien
  • Giok Hartono
  • Raj Kumar Gopal
  • Audi Rusli
  • Stanley Atmadja
  • Luca Genovese
  • Jeffry Thung
  • Tommy Sutanto
  • Tjong Yen

Perupa yang dikagumi

  • Nyoman Gunarsa
  • Made Budhiana
  • Made Djirna

Museum

  • Singapore Art Museum