Sarasvati Inisiasi Crossover Program

0
1084
Abdul Kamarzuki, Akmal Jaya, Lin Che Wei
Dirjen Tata Ruang Kementerian ATR/BPN Abdul Kamarzuki (tengah) memegang patung batu "Stiff & Flexible" karya Akmal Jaya (bertopi) didampingi Lin Che Wei (kanan). (Dok. Bayu Wardhana)

Sarasvati Art Communication and Publication menginisiasi Crossover Program dengan memilih 2-3 seniman serta para pengambil kebijakan publik, guna meluaskan spektrum skena kesenian.

Program pertama berhasil mempertemukan seniman lukis Bayu Wardhana, seniman patung Akmal Jaya, Deputi IV Kemenko Perekonomian Mohammad Rudy Salahuddin, dan  Dirjen Tata Ruang Kementerian ATR/BPN Abdul Kamarzuki. Program tersebut digelar bersamaan perayaan Imlek di Pantjoran Tea House, Jakarta, 17 Februari 2017 yang dihadiri Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Kepala BPN RI Sofyan Djalil.

Baca juga Meriah Imlek di Pantjoran Tea House

Para seniman bukan hanya menunjukkan karya yang sudah jadi, melainkan juga memperlihatkan proses mereka berkarya. Akmal Jaya memperlihatkan proses finishing patung batunya, Bayu Wardhana melukis di tempat dari awal hingga selesai, dan Priyaris Munandar menunjukkan proses awal melukis.

Akmal Jaya, Stiff & Flexible
Akmal Jaya, “Stiff & Flexible”, 36x35x9cm, material granit, 2018. (Dok. Akmal Jaya)

Crossover Program adalah program “menyeberangkan” karya-karya seniman kepada para pemegang kebijakan publik. Tujuannya memberi akses bagi seniman ke kalangan yang lebih luas sekaligus membentuk jaringan baru.

Keuntungan bagi seniman adalah karyanya dikoleksi pemegang kebijakan publik. Bagi kolektor, dia mendapat karya bermutu yang dikurasi secara cermat.

Baca juga Upaya Cegah Kebakaran di Bangunan Bersejarah

Lin Che Wei yang menjadi penggagas program ini mengatakan, “Umumnya pameran seni hanya dihadiri lingkaran sang seniman, yakni sesama seniman, kolektor, serta jurnalis seni. Kali ini, Sarasvati mempertemukan seniman dengan orang berpengaruh. Hubungan ini bersifat jangka panjang dan saling menguntungkan.”

Salah seorang seniman yang kali ini terpilih adalah Akmal Jaya, yang kerap menjadikan literatur sebagai pijakan karyanya. Semisal Stiff & Flexible berbahan granit yang terinspirasi  kitab Tao Te Ching bab 76 karya filsuf Tiongkok Lao Tzu pada abad ke-6.

Bayu Wardhana
Bayu Wardhana, “Pasar Lampion di Petaksembilan”, 90x120cm, acrylic on canvas, 2018. (Dok. Bayu Wardhana)

Isinya, lebih kurang, manusia lembut dan lemah pada saat lahir, dan menjadi keras dan kaku ketika mati. Semua mahluk hidup, baik itu rumput dan pepohonan, ketika hidup, lembut, lentur penuh dengan sari kehidupan; dan akan kering, kaku, dan rapuh ketika mati.

Lentur adalah tanda kehidupan. Tak heran jika bala tentara yang tidak mau mundur akan mudah dikalahkan, atau pohon besar yang kaku akan mudah tumbang diterpa angin kencang. Pada akhirnya, kelembutan dan kelenturan yang akan bertahan.

Baca juga Bayu Wardhana dan Pesona Warna Kota

“Saya transferkan filsafat itu ke batu, memvisualkan kelembutan di atas batu yang keras,” ujar Akmal. Akmal yang kelahiran Rengat, 11 Juni 1966 adalah lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta jurusan Seni Patung.

Pengerjaan patung batu berukuran 30cm hingga 50cm yang biasanya satu bulan, untuk Stiff & Flexible butuh waktu nyaris dua bulan karena tingkat kesulitan yang lumayan tinggi, terutama membuat lekuk-lekuk tipis, sampai 1 milimeter. Stiff & Flexible kini menjadi koleksi Dirjen Tata Ruang Kementerian ATR/BPN Abdul Kamarzuki.

Seniman lukis Bayu Wardhana menampilkan keahliannya melukis on the spot. Di halaman Pantjoran Tea House dia melukis gedung Pantjoran Tea House tempo dulu saat bernama Apotheek Chung Hwa serta permainan barongsai dan liong di halamannya. Lukisan itu dia beri judul Barong Dance di Pantjoran Tea House.

Bayu Wardhana, Akmal Jaya, Priyaris Munandar
Bayu Wardhana (kiri), Akmal Jaya (berkaca mata), dan Priyaris Munandar (kanan) mengapit lukisan karya Bayu, “Barong Dance in Pantjoran Tea House”. (Dok. Bayu Wardhana)

Bayu juga membuat lukisan Pasar Lampion di Petak Sembilan dan Vihara Dharma Bakti (Jin De Yuan), dua lokasi itu berada tak jauh dari Pantjoran Tea House. Pasar Lampion di Petak Sembilan kemudian dikoleksi Deputi IV Kemenko Perekonomian Mohammad Rudy Salahuddin.

Nama Bayu Wardhana mulai ramai dibicarakan publik seni pada pertengahan 2012 karena kemampuannya melukis cepat dan on the spot. Dalam sehari, lulusan ISI Yogyakarta ini bisa membuat dua hingga tiga karya lukis.

Baca juga Kisah-kisah Berkabut Priyaris Munandar

Selain Akmal dan Bayu, seniman lukis Priyaris Munandar mendemonstrasikan tahap awal melukis Semangat Imlek. Baru gunung berlatar belakang merah yang dia lukiskan di bidang 85×120 cm.

Idenya, Semangat Imlek adalah tentang kampung bernama Fo Shan di Provinsi Guangdong, Tiongkok yang konon tempat diciptakannya barongsai. Saat itu, banyak orang hilang dimakan makhluk halus. Maka barongsai pun diciptakan, lengkap dengan bunyi-bunyian yang keras sekali sebagai pengusir roh jahat.

Priyaris sekarang sedang menyiapkan pameran tunggal di Jakarta pada 2019.penutup_small