Tidak lama ini, Jepang membuka museum digital pertama di dunia (21/6). Sekaligus mengokohkan posisinya sebagai garda depan seni digital. Menampilkan 50 karya seni nan interaktif dan imersif, museum ini digarap oleh teamLab. Sebelumnya, teamLab juga membuat instalasi digital untuk National Gallery of Victoria, National Gallery Singapore, dan Plaza Indonesia.

Museum yang bernama lengkap Mori Building Digital Art Museum: Epson teamLab Borderless memiliki luas 10,000 meter persegi dan berisikan 50 karya seni. Semua karya seni dirancang dan dihubungkan oleh jaringan kompleks yang terdiri dari 520 komputer serta 470 proyektor berteknologi tinggi. Dipatok dengan harga tiket 3200 yen untuk dewasa dan 1000 yen untuk anak-anak, museum ini mengajak pengunjung untuk mengeksplorasi dunia tanpa batas.

Memasuki ruang museum, pengunjung langsung disambut oleh Universe of Water Particles on a Rock where People Gather (2018). Menampilkan air terjun digital yang besar. Air mengalir dan burung-burung berkicau sambil lalu. Bunga-bunga bermekaran sesuai dengan musim. Terkadang musim panas, terkadang musim semi. Tidak konstan tapi tampak nyata. Di ruang lainMemory of Topography (2018) akan menghipnotis pengunjung dengan ilusi suasana pedesaan Jepang. Cermin-cermin saling berhadapan menghasilkan proyeksi teratai hijau, dandelion, dan kunang-kunang yang tidak terbatas. Semuanya ditampilkan dalam presisi tinggi.

Spirit of the Flowers (2018) di MORI Building DIGITAL ART MUSEUM: teamLab Borderless (sumber: teamLab)
Spirit of the Flowers (2018) di MORI Building DIGITAL ART MUSEUM: teamLab Borderless (sumber: teamLab)

Di lantai atas, tersedia area yang memacu saraf motorik pengunjung. Seperti arena Athletic Forest, area interaktif yang menggabungkan permainan dan efek-efek visual digital.  Berloncat-loncatan di atas trampoline sembari meraih galaksi atau malah berloncatan di antara gugusan bintang. Area ini mendorong partisipasi para pengunjung. Selain itu, Athletic Forest sangat dianjurkan untuk anak-anak karena memang dirancang untuk mendorong perkembangan hippocampus otak dan kapasitas neurologis anak.

Baca juga Korporasi Pilar Apresiasi Seni

Penggarapan museum sepenuhnya dilakukan oleh teamLab dan bekerjasama dengan Mori sebagai penyedia tempat. TeamLab merupakan kolektif seni antardisiplin asal Tokyo. Berdiri sejak 2001, teamLab mengusung “ultra-teknologi” sebagai medium berekspresi.  Karya-karya mereka menjadi koleksi dari berbagai museum atau galeri besar, seperti: Pace Art Gallery, National Gallery Singapore, National Gallery of Victoria, dsb. TeamLab juga pernah berpameran Learn&Play! teamLab Future Park di Plaza Indonesia pada 2017 silam. Melalui seni digital, teamLab berusaha untuk memperluas domain seni, menciptakan eksistensi kesenian yang lebih bebas, dan mengaburkan batas-batas realita.

Graffiti Nature - High Mountains and Deep Valleys (2018) di MORI Building DIGITAL ART MUSEUM: teamLab Borderless (sumber: teamLab)
Graffiti Nature – High Mountains and Deep Valleys (2018) di MORI Building DIGITAL ART MUSEUM: teamLab Borderless (sumber: teamLab)

Karya seni yang ditampilkan pun membutuhkan partisipasi dari pengunjung. Entah itu sekedar sentuhan atau gerakan melompat. Gerakan-gerakan tersebut akan mempengaruhi penampakan visual ataupun suara digital.

“Setiap hari merupakan pengalaman yang berbeda. Ada banyak monitor dan proyektor, tapi pada dasarnya para pengunjung juga bagian dari karya kami. Ini adalah sesuatu yang memang tanpa batas dan melampaui batas-batas tertentu” ungkap Takashi Kudo, direktur bidang komunikasi teamLab, sebagaimana dilansir dari CNN.

“Ketika Anda membuat sesuatu, pasti ada batasannya. Misal di kanvas ataupun patung, Anda tidak bisa mengubahnya. Tapi, seni digital sangat luwes, dapat berubah karena dunia digital tidak sungguh-sungguh ada. Kami ingin membawa orang-orang masuk dan mengeksplorasi karya kami.”

Lewat kehadiran Mori Building Digital Art Museum, potensi seni digital untuk semakin populer kian terasa. Seni digital tidak semata-mata menampilkan estetika visual yang imersif, namun juga partisipasi pengunjung untuk mengeksplorasi dan mencipta karya seni itu sendiri. Hasilnya, karya seni menjadi sesuatu yang lebih dari objek pandangan: lebih hidup dan cair.

Sekiranya, museum ini mampu menawarkan terobosan dan kesegaran di bidang seni. Tidak hanya terpaku pada domain-domain lama dengan aturan-aturan teori yang mesti dipenuhi.  Namun seni dilepaskan ke yang lebih bebas. Seni digital sebagai new media art niscaya dapat menjadi jembatan antara seni, ekspresi, dan perubahan zaman.