Sujud Maaf Tisna Atas Kaum Munafik

0
529
Detail karya Potret Diri Sebagai Kaum Munafik yang dibuat dengan gerakan sujud di atas sajadah. (Foto: Dhamarista Intan)

Menandakan umurnya yang telah 60 tahun, Tisna Sanjaya menggelar pameran tunggal “Potret Diri Sebagai Kaum Munafik”, pada 9-21 Juli 2018 di Gedung A Galeri Nasional Indonesia. Didukung Lawangwangi Creative Space-ArtSociates Bandung, pameran ini menampilkan respons Tisna pada praktik dominasi kekuasaan yang seringkali melibatkan unsur-unsur keagamaan.

Berasal dari Bandung, Tisna Sanjaya adalah seniman senior yang puluhan tahun telah mondar-mandir di jagat seni Indonesia. Ia dikenal sebagai seniman yang sering merespons isu sosial, politik, juga lingkungan. Pada 2004, salah satu karyanya yang bertajuk “Doa Khusus bagi si Mati” bahkan pernah dibakar Satpol PP saat dipamerkan di Babakan Siliwangi, Bandung. Berita yang beredar menyebut karya tersebut dikira sebagai “sampah”, namun beredar juga kabar bahwa pembakaran tersebut merupakan bentuk ketidaksenangan aparat terhadap kritik yang dilancarkan Tisna. Karya instalasi berbentuk perahu tersebut lantas harus berakhir menjadi abu.

Instalasi bertajuk
Instalasi bertajuk “Sujud”, berisi 99 plat tembaga, 33 cetakan etsa pada kertas, dan mesin cetakan etsa. (Foto: Dhamarista Intan)

Sepanjang jalan berkeseniannya, Tisna tidak hanya membuat karya lukis dan grafis, namun juga menampilkan performans di berbagai kesempatan. Kemampuan seniman kelahiran 1958 tersebut diasah lewat pendidikan seni rupa dan desain di Institut Teknologi Bandung dan Hochschule für Bildende Künste Braunschweig College of Fine Arts, Jerman. Ia juga sempat menerima beasiswa untuk memperdalam studi etsanya di Jerman pada 1991-1994 dan 1997-1998.

Baca juga Art Bali, Ekspansi Heri Pemad Setelah Art Jog

Berbicara tentang pameran tunggal Tisna kali ini, judul “Potret Diri sebagai Kaum Munafik” sesungguhnya tidaklah asing. Nama tersebut digunakan sebagai judul karya performans Tisna yang ditampilkan pada acara pembukaan Museum MACAN di tahun 2017. Saat itu, Tisna melakukan performans dengan bersujud di atas 33 lembar sajadah. Ia melumuri tubuh, tangan dan kakinya dengan arang, rempah, dan lumpur sehingga meninggalkan berbagai jejak tubuh seiring gerakan sujud yang dilakukannya.

Mesin cetak etsa ditempatkan Tisna di tengah ruang pamer sebagai bagian instalasi berjudul
Mesin cetak etsa ditempatkan Tisna di tengah ruang pamer sebagai bagian instalasi berjudul “Sujud” (Foto: Dhamarista Intan)

Potret Diri sebagai Kaum Munafik, menjadi salah satu karya yang turut dibawa Tisna pada pameran tunggalnya kali ini. Ketika memasuki ruang pamer, pengunjung dapat melihat 33 kain sajadah yang didominasi warna hitam kekuningan, dengan jejak berbagai cetakan tubuh di atasnya. Sedangkan di sisi dinding lainnya, bersandar dua kanvas: berwarna hitam dan putih, yang salah satunya menampilkan baju yang dipakai Tisna saat melakukan performans.

Baca juga Dunia Bawah Sadar “Grotesk”

Pemilihan kata “munafik” digunakan Tisna sebagai sindiran kepada pihak-pihak yang menggunakan agama sebagai jalan menuju kekuasaan. Karena sejatinya, di dalam Islam dikenal kata “al-Munafiqun” atau “kaum Munafik” yang menyembunyikan kekafirannya di balik iman. Hal yang sering diamati Tisna sering terjadi akhir-akhir ini.

Proses pengerjaan karya Tisna dengan gerakan sujud ditampilkan dalam video dokumenter (Foto: Dhamarista Intan)
Proses pengerjaan karya Tisna dengan gerakan sujud ditampilkan dalam video dokumenter. (Foto: Dhamarista Intan)

Untuk mengkritik hal tersebut, Tisna melakukan gerakan sujud sebagai upaya mengingatkan manusia yang hakikatnya adalah hamba Allah. Hal ini juga berangkat dari penghayatan Tisna atas “Asmaul Husna” atau “Nama-nama Allah Yang Indah” yang berjumlah 99. Angka tersebut hadir dalam beberapa karya di pameran ini seperti 99 Sajadah Merah, yang penampakannya hampir serupa dengan Potret Diri Sebagai Kaum Munafik dan karya Sujud yang menggunakan 99 plat tembaga.

Baca juga ART SG Saingan Baru Art Stage Singapore

Sesuai dengan judulnya, karya Sujud dibuat Tisna dengan kembali melakukan gerakan sujud. Bedanya, kali ini pelat tembaga yang menjadi alasnya ketimbang sajadah. Sujud hadir dalam bentuk instalasi yang diisi oleh 99 plat tembaga serta 33 cetakan etsa dan aquatint di atas kertas. Plat-plat tersebut disusun mengelilingi mesin cetak etsa yang ditutup kubus kaca, sedangkan karya-karya grafisnya dipajang pada tiga sisi ruang pamer.

Beberapa pengunjung sedang mengamati karya Potret Diri Sebagai Kaum Munafik (Foto: Dhamarista Intan)
Beberapa pengunjung sedang mengamati karya Potret Diri Sebagai Kaum Munafik (Foto: Dhamarista Intan)

Gerakan sujud yang dilakukan Tisna baik di atas sajadah maupun plat etsa tersebut merupakan gabungan dari makna relijius sekaligus estetik. Hendro Wiyanto yang memberi catatan pendamping di pameran ini bahkan menyebut gerakan sujud yang dilakukan Tisna pada aksi performansnya sebagai “sembahyang ala Tisna Sanjaya”. Gerakan tersebut diakui oleh sang seniman sebagai ungkapan maaf atas segala kejadian dan kekerasan yang acap mengatasnamakan agama.

Apabila melihat secara keseluruhan isi pameran, pengunjung akan menemui intensitas seniman untuk menunjukan relasi personalnya dengan etsa. Intensitas tersebut diwujudkan lewat puluhan karya grafis yang dibuat dengan teknik etsa, kehadiran mesin etsa yang begitu simbolis di ruang pamer, serta video-video dokumentasi yang berisikan proses ber-etsa-ria Tisna.

Karya-karya grafis terbaru Tisna Sanjaya yang menggunkaan teknik etsa (Foto: Dhamarista Intan)
Karya-karya grafis terbaru Tisna Sanjaya yang menggunkaan teknik etsa (Foto: Dhamarista Intan)

Etsa bagi Tisna Sanjaya merupakan sebuah poin penting, yang memiliki ciri khas dan penuh tantangan sekaligus membawanya pada sebuah perenungan. Kita mampu menemui berbagai topik yang akhirnya tumpah pada karya grafis Tisna, bagai monolog yang mempertanyakan agama, hal duniawi, dan seni itu sendiri. Hal ini seperti yang dituliskan Hendro Wiyanto pada catatan pameran tentang relasi agama dan seni yang dirasakan oleh Tisna:

“Agama bagi Tisna akan menjadi lebih humanis dengan hadirnya seni di dalamnya.”penutup_small