10 Acara Seni Rupa Terpenting Selama 2017 dan 5 Karya Terbaiknya

0
10518

6. Jakarta Contemporary Ceramic Biennale ke 4 di Galeri Nasional (8 Desember 2016 – 22 Januari 2017)

Jakarta Contemporary Ceramic Biennale ke 4, bertema “Ways of Clay Perspectives Toward the Future”
Jakarta Contemporary Ceramic Biennale ke 4, bertema “Ways of Clay Perspectives Toward the Future” (Foto: Jacky Rachmansyah)

Dikuratori oleh Rizki A. Zaelani, pameran ini menampilkan 53 seniman lokal dan luar. Karya yang menonjol pada pameran tersebut adalah riset tentang fenomena geophagy yaitu praktik mengkonsumsi tanah atau zat-zat yang menyerupai tanah. Masha Ru dan Dina Roussou menemukan bahwa ada tradisi kuno di Indonesia dan keduanya mengajak pengunjung untuk mencicipi tanah liat yang sudah dimasaknya. Ternyata ada tradisi kuno di Indonesia, yakni mengkonsumsi tanah liat yang dibakar sebagai makanan ringan atau obat.

Arya Panjalu menampilkan instalasi interaktif trimatra. Menampilkan karya Electric Earth yang berbentuk kepala manusia yang menopang piring dan mangkuk yang bila diaktifkan, maka pentungan-pentungan yang terlekat di balik kepala mulai memukuli piring dan mangkuk di atas kepala tersebut hingga melahirkan bunyi nyaring.

Baca juga Rentang Tanah Liat dalam Ranah Seni Rupa 

Kali ini Heri Dono absen dengan figur mainan found objects yang menjadi kebiasaannya, Bumi Yoni yang dibawanya adalah pot-pot terracotta yang dipasang di dinding dan akan mengaktifkan bunyi dan cahaya lewat injakan kaki.

Jakarta Contemporary Biennale #4 “Ways of Clay: Perspectives Toward the Future” berhasil mempersembahkan variasi yang luas akan karya seni dari material tanah liat. Serta memperlihatkan kemungkinan-kemungkinan artistik yang diciptakan dari materi tanah liat.