Rising Artist : Ayu Arista Murti Dan Era Visual Baru

0
538
Seniman Perempuan Ayu Arista Murti di depan karya nya. (Doc. Riski Januar)

Nama Ayu Arista Murti acap kali tampil dalam berbagai pameran seni rupa. sampai pertengahan tahun ini saja, Ayu telah mengikuti 12 kali pameran termasuk pameran tunggal yang bertajuk “Remembering Garden of Epicurus” di Artotel, Yogyakarta.

Tahun ini pun karyanya juga tampil dalam dua pagelaran art fair di luar negeri yaitu, di Auckland Art Fair, New Zealand dan Art Stage Singapore.

Tidak banyak perempuan di Indonesia yang konsisten berkarir dalam dunia seni rupa, Ayu adalah salah satu nya. Seniman kelahiran Surabaya, Jawa Timur pada tahun 1972 ini mulai aktif berpameran semenjak tahun 1994, dia tercatat telah menggelar tujuh kali pameran tunggal baik di dalam maupun luar negeri.

Semenjak tahun 2003 Ayu menjalin hubungan kontrak dengan Edwin Gallery, Jakarta. Hubungan ini bertahan selama 10 tahun hingga berakhir di tahun 2013. Dalam rentang satu dekade tersebut, karya Ayu dikenal dengan lukisan-lukisan figuratif yang banyak membicarakan tentang pengaruh lingkungan dan humanitas.

Dalam masa kontrak nya dengan Edwin Gallery pun, karya-karya Ayu kerap muncul dalam berbagai sesi lelang. Mengutip dari situs artprice.com, karya Ayu yang dibuat dalam rentang tahun 2000 hingga 2010 kerap hadir dalam sesi penjualan di Sidharta Auction, Larasati Auction, Masterpiece Auction House, Christie’s, dan Sotheby’s.

Salah satu karyanya yang berjudul “Merenda Baju Nirwana” [2007], bahkan laku terjual seharga € 9.810 di balai lelang Sotheby’s pada tahun 2008, penjualan ini jauh melebihi estimasi harga yang berkisar antara € 3.270 – € 4,087.

Namun grafik harga karya Ayu di pasar lelang semenjak tahun 2007 hingga tahun 2017 menunjukkan trend penurunan. Seperti karyanya yang berjudul “May God Bless You” [2010], hanya terjual seharga € 540 di Sidharta Auction pada tahun 2017, penjualan ini bahkan berada dibawah estimasi harga yang berkisar antara € 600 – € 900.

Walaupun begitu Ayu tidak terlalu memikirkan masalah penjualan karya. baginya hal tersebut memiliki kapasitasnya masing-masing, Ayu hanya fokus dalam hal produktivitas dan melahirkan karya-karya baru.

 

Karya Ayu Arista Murti, I’m Watering My Self, 200 cm x 190 cm, 2018. (Doc. Ayu Arista Murti)
Karya Ayu Arista Murti, I’m Watering My Self, 200 cm x 190 cm, 2018. (Doc. Ayu Arista Murti)

Selepas karirnya sebagai “seniman kontrak”, Ayu memilih menjalani karir sebagai seniman independen. Hal ini membuatnya lebih leluasa bereksplorasi dengan teknik, bentuk, eksperimen bahkan dalam konsep karya sekalipun.

Keleluasaan ini terlihat dari visual karyanya yang sangat berbeda, karya-karya Ayu saat ini lebih bergaya abstrak, dengan warna-warna yang lebih lembut. Perubahan ini dia tandai dengan menggelar pameran tunggal bertajuk “Flowing with The Water” di Ark Gallery, Yogyakarta, pada tahun 2017 lalu.

Berikut ini adalah wawancara mendalam kami dengan Ayu Arista Murti seputar perjalanan karir dan perubahan yang terjadi pada karya terbarunya.

Bagaimana awal perjalanan anda menjadi seniman?

Pada mulanya saya kuliah di jurusan Desain Interior ISI [Institut Seni Indonesia] Yogyakarta pada tahun 1997, namun saya tidak menemukan kecocokan karena tidak bisa menyampaikan imajinasi dan gagasan melalui karya saya. Akhirnya pada tahun 1999 saya pindah Jurusan ke Seni Murni, karena lebih leluasa dalam membuat karya dan menyampaikan gagasan. Sebagai seniman, Saya tidak mempunyai target yang muluk-muluk, yang penting gagasan saya bisa tersampaikan dan juga karena saya yakin bahwa ini adalah jalan yang diberikan oleh tuhan.

Siapa seniman yang menjadi inspirasi dan motivasi anda?

Saya tertarik dengan orang yang memiliki keberanian mengolah teknik dan juga bereksperimen seperti Anselm Kiefer. Dan juga orang-orang yang mempunyai spirit positif, walaupun dalam keadaan susah mereka masih tetap berkarya seperti Van Gogh dan Egon. Saya juga suka seniman-seniman Avant Garde seperti Duchamp dan Damien Hirst, di karya mereka ada beberapa hal yang sengaja dilakukan untuk mengganggu nurani dan pola pikir, bahwa di dalam seni tidak hanya ada keindahan, juga harus ada gagasan.

Selang enam tahun semenjak 2011, anda baru berpameran tunggal lagi di tahun 2017 dan 2018. Adakah perubahan dari karya anda?

Selama 6 tahun itu, karya saya belum memiliki hal yang baru, ada pergeseran teknik tapi belum signifikan. Namun di tahun 2017 Karya saya sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jika dulu karya saya figuratif dan banyak warna-warna gelap, namun sekarang warna-warna saya lebih cerah, lebih careful dan juga lebih abstrak.

 

Karya Ayu Arista Murti, Unity. 01, 190 cm x 170 cm, 2018. (Doc. Ayu Arista Murti)
Karya Ayu Arista Murti, Unity. 01, 190 cm x 170 cm, 2018. (Doc. Ayu Arista Murti)

Seperti apa pergeseran teknik di karya terbaru anda?

Pada karya baru ini, saya bereksperimen dengan air, saya mencoba bereksplorasi dengan menciptakan efek-efek air yang dibuat oleh alam. Bagi saya air itu memiliki energi, jika kita memberi energi yang bagus, maka dia akan menjadi bagus, begitupun sebaliknya. Di samping air sebagai subjek, dia juga sebagai simbol emosi dan kerja sama saya dengan alam.

Selain air, saya juga bereksperimen dengan mengombinasikan teknologi seperti neon light. Neon light ini berfungsi untuk menegaskan garis pada lukisan saya.

Adakah perubahan konsep di karya terbaru anda?

Dulu karya saya berangkat dari persoalan kasih sayang dan humanity, namun karya sekarang ini lebih kepada alam. Menurut saya alam merupakan bagian dari kasih sayang itu sendiri. jadi dalam prosesnya saya mulai dari lingkungan terdekat seperti halaman rumah saya, makanya sekarang lebih banyak objek-objek tanamannya. Sekarang saya lebih ke masalah rasa, makanya lebih abstrak.

Bagaimana apresiasi orang-orang melihat perubahan karya anda?

Kalau apresiasi secara estetik bagus sih, Banyak yang suka karya-karya saya sekarang ini, karena lebih berkembang secara ide dan teknik.

Kalau apresiasi pasar?

Kalau dulu mungkin lebih manis, kalau buat market mungkin lebih bagus yang dulu, di samping saat itu juga sedang booming. Saat ini terjual pasti ada, Cuma memang saya belum tau impact-nya seberapa besar, karena sekarang beda waktu, beda timing dan mau pilpres, jadi orang untuk investasi juga pikir-pikir. Tapi saya tidak terlalu mikirin masalah penjualan sih, saya lebih suka fokus berkarya saja, ya ada wilayahnya masing-masing lah.

Apakah sekarang anda sedang menjalin kontrak dengan Galeri ?

Awalnya saya sama Edwin Gallery selama 10 tahun. lalu di tahun 2013 selesai. Untuk saat ini saya lebih memilih sendiri dulu, karena lebih bebas bereksperimen. Memang sekarang ada beberapa pendekatan dari galeri, tapi lebih ke pameran, project, tapi bukan dalam bentuk kontrak.

Adakah kendala yang anda hadapi sebagai seniman perempuan?

Ada, seperti membagi waktu untuk mengurusi keluarga, anak, rumah dan karya. Kadang-kadang saya baru bisa berkarya kalau sudah malam, karena siang harinya saya mengurusi anak-anak. Bagi saya itu menjadi sebuah tantangan untuk pekerjaan yang tidak banyak perempuannya. Saya berbekal keyakinan dan doa, Saya bertanggung jawab untuk takdir hidup saya karena sudah memilih karir seperti ini. Sejauh ini selama saya berpikir positif dan berusaha, selalu ada jalan kok.

Pesan anda untuk para seniman perempuan?

Jangan takut menjadi diri sendiri dan teruslah memberikan warna-warna dan imajinasi mu untuk dunia.