Tiga Karya Anti Mainstream di Tumurun Privat Museum

0
534
Karya patung Wedhar Riyadi "Floating Eyes" dan mobil antik Mercedes Benz tahun 1972 berdiri megah di bagian depan ruang pamer Tumurun Private Museum. (Dok. Riski Januar)

Baru saja dibuka enam bulan lalu, Tumurun Private Museum di Kota Surakarta (Solo), Jawa Tengah berhasil mendapatkan apresiasi positif dari masyarakat dan pecinta seni di Kota Solo maupun di daerah lainnya.

Pada Soft Launching tanggal 14 April 2018, museum ini dibuka sehari untuk publik dan dibatasi hanya untuk 300 orang pendaftar, namun lebih dari 500 orang membludak ingin melihat karya-karya di museum ini.

Bahkan di open house yang kedua pada tanggal 5 Mei 2018, mengutip dari akun Instagram resmi @tumurunprivatemuseum pendaftaran sudah ditutup selang 15 menit setelah dibuka karena kuota pengunjung sudah penuh.

Selain pada saat open house, museum yang berada dekat dengan Taman Sriwedari Solo ini tetap bisa dikunjungi, dengan syarat melakukan reservasi terlebih dahulu melalui kontak person yang ada di website tumurunmuseum.com.

Tumurun Museum adalah museum milik keluarga Lukminto. Pada mulanya museum ini didirikan untuk memajang koleksi mobil antik dari almarhum H.M Lukminto yang merupakan pendiri Perusahaan tekstil terbesar di Asia Tenggara, PT. Sri Rejeki Isman (Sritex).

“Awalnya adalah untuk men-display mobil-mobil kuno koleksi almarhum ayah saya, dimana dulu cuma berada di garasi, berdebu dan tidak bisa di nikmati,” ucap Iwan Kurniawan Lukminto (35) yang merupakan pemilik museum dan anak ke empat dari H.M Lukminto.

Iwan yang juga merupakan Wakil Direktur Utama dari PT. Sri Rejeki Isman ini mulai mengoleksi karya seni rupa semenjak tahun 2015, saat ini koleksinya telah menjadi kurang lebih 150 karya yang terdiri dari karya Old Master Indonesia hingga karya dari para seniman Kontemporer.

Tidak semua bagian museum boleh dikunjungi, yang boleh di akses untuk publik umum hanyalah di lantai bawah museum yang berisi karya-karya seni rupa kontemporer. Sedangkan di lantai atas berisi karya-karya Old Master yang tidak diperkenankan untuk publik dengan alasan keamanan karya.

Jika anda berniat untuk mengunjungi Tumurun Museum, kami akan memandu anda untuk memperhatikan karya-karya bagus yang sering terlewatkan.

Tiga karya yang tidak boleh anda lewatkan

kebanyakan dari pengunjung Museum Tumurun selalu berfoto didepan karya patung Wedhar Riyadi yang berjudul “Floating Eyes”, karya ini pun sebelumnya juga sempat populer menjadi objek selfi di pagelaran Art Jog 10 pada tahun 2017 lalu. Namun selain patung tersebut ada karya lainnya yang tidak kalah menarik seperti:

Karya seniman legendaris Heri Dono

Pada saat memasuki ruang pamer museum anda akan melihat Karya Heri Dono (58) berjudul Badman And SuperBad yang dibuat pada tahun 2003. Karya ini mengkritisi perang antara Amerika Serikat dengan Irak. Heri beranggapan alasan perang seperti radikalisme dan penghancuran senjata pemusnah massal hanyalah akal-akalan belaka karena tidak terbukti kebenarannya. Perang tersebut menurut Heri hanyalah untuk menguasai pasokan minyak mentah Irak dan politik kepentingan lainnya.

 

Karya Heri Dono, Bad Man And Super Bad, 2003. (Dok. Riski Januar)
Karya Heri Dono, Bad Man And Super Bad, 2003. (Dok. Riski Januar)

Mengapa ini harus dilihat: Heri Dono adalah seniman kontemporer Indonesia yang sangat disegani, karyanya telah dipamerkan di banyak negara. Dia juga ikut mewakili Indonesia dalam dua kali pegelaran Venice Biennale, Itali pada tahun 2003 dan 2015. Karya Badman And SuperBad ini merupakan salah satu karya yang di pamerkan Heri di pagelaran Venice Biennale pada tahun 2003 tersebut.

Yang harus diperhatikan: Lukisan ini berukuran lumayan besar dengan ukuran 286 X 340 cm, oleh karena itu anda harus mengatur jarak agar memiliki jarak pandang yang cukup untuk melihat lukisan secara keseluruhan.

Untuk detail karya sebaiknya anda memperhatikan figur-figur yang diciptakan Heri, seperti tokoh super hero Amerika, Superman yang menjadi Superbad dan tokoh super hero Inggris Batman menjadi Badman.

Dalam lukisan ini pun terdapat figur pesawat yang membawa bom pemusnah, dengan figur Saddam Husein di bawahnya sedang bersembunyi dengan tubuhnya yang menyerupai bentuk jerigen minyak yang menyemburkan api. Karya ini merupakan bentuk ilustrasi suasana perang yang di ciptakan Heri melalui figur-figur parodi yang malah terkesan lucu.

Karya terdekat : Ada karya Entang Wiharso tepat di dinding sisi kanan sebelah karya Heri Dono. Karya Entang kurang lebih menghadirkan sensasi yang hampir mirip, dengan figur yang lebih seram dan warna yang lebih tajam.

Yang rumit, yang Handiwirman

karya Handiwirman Saputra (43) sepertinya jarang mendapat perhatian di Tumurun Museum, hal ini mungkin karena penempatan posisinya berada di sketsel bagian tengah ruangan yang mengarah ke sisi belakang ruang pamer sehingga sering terlewatkan. Handiwirman merupakan seniman kontemporer Indonesia yang dikenal dengan eksplorasi material dan bentuk-bentuk objek tidak biasa pada karyanya yang kerap menggunakan barang temuan dan menghadirkan objek apa adanya.

 

Karya Handiwirman Saputra, Tutur Karena - Dan Bentuk di Atas Karena Sangkutan, 2017. (Doc. Riski Januar)
Karya Handiwirman Saputra, Tutur Karena – Dan Bentuk di Atas Karena Sangkutan, 2017. (Doc. Riski Januar)

Mengapa ini harus dilihat: karya patung yang berjudul “Tutur Karena – dan Bentuk di Atas Karena Sangkutan” yang dibuat pada tahun 2017 ini merupakan karya yang rumit untuk di apresiasi. Namun kerumitan ini menjadi tantangan tersendiri untuk mengolah rasa dan menemukan makna-makna subjektif dari masing-masing audiens. Dalam konsep karyanya, Handi menuliskan bahwa “Tutur Karena” adalah tokoh yang bisa menjadi apa saja, yang menampilkan ketegangan antara seni dan bukan seni. Handi menginginkan agar audiens memiliki ruang persepsi sendiri saat memandangnya.

Yang harus diperhatikan: karya ini termasuk karya yang rapuh, jadi anda harus mengatur jarak untuk melihatnya. Anda harus benar-benar memperhatikan karya ini agar dapat merasakan makna subjektif dari diri anda sendiri. Perhatikan detail karya dan korelasi antara tiga objek pada karya tersebut. Maknai warna dan bentuk nya, lalu refleksikan hal yang anda dapat kepada diri anda sendiri, sehingga mungkin saja anda bisa merasakan kejutan “tokoh apa saja” yang dimaksud oleh Handiwirman tersebut.

Karya Terdekat: Disebelah karya Handiwirman ada karya lukisan yang juga dari Handiwirman. Memperhatikan dua karya dengan material dan teknik yang berbeda ini anda akan menemukan sebuah kesamaan. Selain itu, melalui dua karya berbeda ini kita dapat melihat bagaimana visual dan bentuk di transformasikan oleh seorang seniman dari media yang berbeda.

Seni Rupa Islami Abdul Djalil Pirous

Berjalan terus ke belakang dari karya Handiwirman anda akan menemukan karya Abdul Djalil Pirous. Pirous adalah saksi hidup perjalanan seni rupa Indonesia, dia melewati berbagai zaman dan mazhab-mazhab seni yang berkembang di Indonesia seperti seni modern dan kontemporer. Usianya yang telah menginjak angka 86 tahun tidak menghentikan langkahnya untuk terus berkarya. Semakin senja usianya, karya-karya Pirous semakin memperlihatkan kematangan dalam segi estetik dan penghayatan.

 

Karya Abdul Djalil Pirous, Sapalah Kehidupan Dengan Ramah, 2013. (Dok. Riski Januar)
Karya Abdul Djalil Pirous, Sapalah Kehidupan Dengan Ramah, 2013. (Dok. Riski Januar)

Mengapa ini harus dilihat: AD Pirous adalah seorang old master seni rupa yang dianggap juga sebagai perupa kontemporer yang cenderung bernafas Islami. Laki-laki yang lahir di Aceh pada tahun 1932 ini merupakan Dekan pertama Fakultas Seni Rupa ITB [Institut Teknologi Bandung] pada tahun 1984. Pada tahun 1993 Pirous dikukuhkan menjadi guru besar madya dalam bidang seni rupa oleh presiden Soeharto. Pirous mempergunakan kaligrafi dengan maksud untuk membumikan bahasa langit menjadi sebuah bahasa yang mudah dipahami orang lain melalui proses penyadaran religius. Pirous adalah sedikit orang yang mampu menghidupkan seni melalui Kaligrafi Islami

Yang harus diperhatikan:

Karya Pirous berjudul “Sapalah Kehidupan Dengan Ramah” yang dibuat pada tahun 2013 merupakan sebait Surat Al-Isra dalam kitab suci Al-Quran. Kaligrafi yang dilukis Pirous berarti “dan janganlah berjalan di muka bumi dengan sombong, sungguh tidak kau dapat menembus bumi. Dan tiada kau mencapai ketinggian gunung.”

Karya Pirous kaya akan tekstur, perhatikan tekstur pada tulisan kaligrafi, hal ini menunjukkan kepiawaian teknik Pirous dalam membangun garis menjadi kata. Terdapat kedalaman pada tulisan kaligrafi yang menghasilkan dimensi dari gelap terang yang dipaparkan oleh cahaya ruangan.

Pada tekstur bagian atas terdapat material berkilat berwarna keemasan, itu bukanlah cat melainkan leaf gold. Leaf gold adalah emas yang dipalu menjadi lembaran-lembaran tipis. Lembaran-lembaran tersebut kemudian di sepuh Pirous di beberapa bagian karyanya. penggunaan material yang tidak biasa ini menjadikan karya Pirous sangat unik dan mewah. Juga menegaskan kesucian dari kata-kata yang dibuatnya.

Karya Terdekat : Karya Pirous berada di bagian belakang Museum, di sekitarnya anda dapat melihat karya Gilang Fradika. Karya Gilang menampilkan objek-objek tumbuhan laut yang seolah-olah menari-nari mengambang, karya ini sekiranya bisa menetralkan anda kembali setelah menempuh rumitnya karya Handiwirman dan sisi religiositas dari A.D Pirous.

 


Tumurun Private Museum

Jalan Kebangkitan Nasional No.2, Sriwedari, Laweyan, Solo

0271-7463320 / +6281227002152

www.tumurunmuseum.com