Ratusan Sketsa Hadirkan Rekreasi dan Edukasi

0
580
Melamun, karya Henk Ngatung (1921-1991) (Dok. GNI)

Sejak lampau hingga kini, kehadiran sketsa masih sering dipertanyakan statusnya: utuh sebagai hasil akhir [karya] atau preambul dari sebuah lukisan. Namun lewat Pameran Sketsa yang digelar Galeri Nasional Indonesia (GNI), setidaknya kita bisa meninjau balik posisi sketsa dulu dan kini di lingkup seni rupa Indonesia.

Pameran Sketsa bertajuk “[Re]Kreasi Garis” menampilkan 234 karya dari 138 sketchers yang diseleksi tim kurator seperti Bambang “Bambu” Bujono, Beng Rahadian, dan Teguh Margono. Ratusan karya tersebut ditampilkan di Gedung B dan C.

“Mengambil kata [re]kreasi garis, rekreasi membuat gambar jadi tidak sekedar studi tapi juga berwisata. Rekreasi membuat garis. Lalu posting di Instagram,yang gak cuma di kota besar tapi sampai ke Gorontalo dan lain-lain,” jelas Beng tentang pemilihan judul pameran. “Karya mewarnai media sosial dengan indah di tengah hiruk pikuk isu. [Gambar] kota, makanan, aktivitas warga, jadi rekreasi juga.”

Baca juga Senyum Tujuh Presiden di DPR

Melihat kecenderungan sketcher masa kini yang begitu aktif menggunakan media sosial sebagai wadah ekspresi, mungkin menyebabkan pula dilakukannya sistem open call lewat media sosial dengan penggunaan hashtag #KamiSketsaGalnas dan #rekreasigaris.

Mayoritas peserta yang masuk berasal dari komunitas-komunitas di berbagai kota di Indonesia seperti KamiSketsaGalNas, Bogor Sketchers, Cianjur Sketcher, Indonesia’s Sketchers Jogja, Semarang SketchWalk, Urban Sketchers Medan, Urban Sketchers Semarang, Urban Sketchers Blitar, Urban Sketchers Surabaya, Beranda Seni Online, Kolcai Chapter Gorontalo, dan Perupa Gorontalo.

Di sisi lain, hadir pula sketchers yang terus berdedikasi dalam perkembangan sketsa Tanah Air yang diundang secara khusus seperti Ipe Ma’aruf, Romo Muji, Srihadi Soedarsono, (alm.) Tedja Suminar, dan Yusuf Susilo Hartono. Tak ketinggalan sketsa-sketsa koleksi GNI yang di antaranya dibuat oleh S. Sudjojono, Oesman Effendi, Henk Ngantung, Tohny Joesoef, juga X-Ling.

seniman Yusuf Susilo Hartono berada di antara sketsa-sketsa buatannya.
seniman Yusuf Susilo Hartono berada di antara sketsa-sketsa buatannya (Doc. Dhamarista Intan)

Ono Saseo: Inspirasi Lahirnya Sketsa

Seorang anak lelaki duduk bersandar pada sebuah pohon. Ia tampak lesu dan memandang jauh ke depan dengan tatapan kosong. Entah siapa gerangan ia, namun goresan-goresan Henk Ngantung mampu menangkap dengan tepat raut wajahnya. Dibuat pada 1943, sketsa tersebut diberi judul “Melamun”.

Selain Henk, ada pula sketsa-sketsa dari maestro S. Sudjojono dan Srihadi Soedarsono. Berdasarkan penelusuran Bambu dan tim kurator, banyak seniman Indonesia termasuk tiga seniman tersebut yang mulai mempelajari sketsa dari Ono Saseo, kepala seksi seni rupa Keimin Bunka Sidhoso (KBS) sewaktu negeri ini masih dibonceng Jepang.

Baca juga Parfum Bau Tanah di Pameran Bodies of Power / Power for Bodies

Saseo waktu itu mengajak para seniman untuk latihan menggambar langsung objek dan peristiwa di luar studio, yang hasilnya dikenal sebagai sketsa.

“Sketsa biasanya dipahami sebagai karya seni rupa bermedia pensil, tinta dan pena dan sejenisnya pada kertas karena menggambar di luar ruangan memerlukan peralatan yang praktis untuk dibawa-bawa,” tulis Bambu dalam kuratorial pameran.

Ajakan Saseo ternyata berbuah manis, latihan itu melahirkan sketchers handal seperti Sudjojono, Affandi, Sudjana Kerton, Henk Ngantung dan Soerono. Bahkan Henk sesungguhnya berdasarkan penjelasan Bambu, telah melahirkan ribuan sketsa yang sayangnya tidak terselamatkan karena dirusak pihak Jepang. Alasannya, banyak sketsa Henk yang menampilkan penderitaan masyarakat di masa tersebut dan berpotensial menjatuhkan imaji Jepang.

“Seharusnya pameran ini mengetengahkan sketsa Henk, Ia adalah pondasi dunia sketsa Indonesia,” ujar Bambu.

Di sisi lain, sedikit yang tahu bahwa seniman sekaliber Srihadi Soedarsono memantapkan langkahnya berkesenian setelah terinspirasi dari sketsa-sketsa Saseo. Srihadi dihadiahkan buku kumpulan Saseo oleh perupa Soerono, pelukis yang hijrah ke Jawa Tengah saat Jakarta diduduki Belanda.

Baca juga Getih Getah Joko Avianto di Asian Games

Di pameran ini kita bisa melihat berbagai sketsa Srihadi sewaktu muda yang dibuat pada medio 40-an, seperti “Seri Pesawat” yang menggambarkankan jatuhnya pesawat Dakota yang ditembaki Belanda di Yogyakarta. Juga sketsa penggeledahan rumah rakyat oleh NICA (Netherland Indies Civil Administration) di “Seri Pahlawan”, hingga sketsa potret Soerono dalam “Pelukis Surono”.

Srihadi Soedarsono, Ballerina (1953) (doc. Dhamarista Intan)
Srihadi Soedarsono, Ballerina (1953) (doc. Dhamarista Intan)

Sketsa Masa Kini: Urban dan Hybrid

Sejarah sketsa yang dihadirkan di pameran ini, coba disandingkan penyelenggara dengan karya-karya dari para sketcher masa kini. Tujuannya adalah melihat bagaimana perubahan dan perkembangan sketsa, yang ternyata kini banyak berkembang di kalangan nonakademis. Kebanyakan adalah warga yang menggemari kegiatan membuat sketsa baik individu atau kelompok, tua atau muda, bisa mahasiswa, ibu rumah tangga, hingga pekerja kantoran, sehingga biasa disebut sebagai sketsa urban,

“Pameran ini menyuguhkan dua dunia. Yang masa kini milik semua orang dan menggambarkan perjalanan [sejarah] sketsa sampai di sana,” ujar Bambang Bujono.

Sedangkan menurut Beng, kemunculan sketsa urban di masa kini sudah jauh berbeda dan bertolak dari pakem yang dulu dipakai. Menurutnya, sketsa urban sudah menggabungkan berbagai teknik menggambar dan mengutamakan kesenangan. Hasilnya, sketsa urban tampak lebih dekoratif dan tidak hanya menangkap garis utama yang sering muncul di sketsa-sketsa lampau.

Deskamtoro dan karya Wisata Kota Tua dalam 360 Derajat (doc. Dhamarista Intan)
Deskamtoro dan karya Wisata Kota Tua dalam 360 Derajat (doc. Dhamarista Intan)

Hal penting lainnya yang mendorong berkembangnya sketsa urban adalah media sosial yang berperan tak hanya sebagai wadah aktualisasi diri warga kota, namun juga terjadinya pertukaran informasi dan koreksi. Media sosial menurut Beng, memudahkan skechers urban untuk mendapatkan pendidikan terbuka serta mempertemukan satu sama lain hingga membentuk komunitas.

Di antara ratusan sketsa yang ditampilkan dari para sketchers urban tersebut, ada yang mencoba tampil berbeda seperti Deskamtoro yang menampilkan lanskap Kota Tua Jakarta dalam 360 derajat. Presentasinya dibuat melingkar, berbeda dengan karya lain yang dipajang dalam frame. Dalam pembuatannya, Deskamtoro terinspirasi dari foto panorama yang bisa menangkap gambar lebih panjang.

Sketsa Adalah Karya

Lewat pameran yang digelar GNI ini, posisi sketsa semakin dikuatkan untuk dilihat sebagai sebuah karya. Meski kini secara bentuk telah banyak berkembang dan tidak hanya menangkap kesan utamanya, upaya untuk membuat sketsa secara langsung (on the spot) terus digiatkan. Rencananya, GNI akan menggelar festival sketsa di tahun mendatang dengan kapasitas yang lebih banyak dan lebih beragam.


Pameran Sketsa [Re]Kreasi Garis

5–16 September 2018

10.00 – 19.00 WIB

Gedung B & C Galeri Nasional Indonesia

Jl. Medan Merdeka Timur No. 14 Jakarta Pusat

Instagram: @galerinasional