Iwan Kurniawan Lukminto: Bukan Kolektor Picisan

0
163
Iwan Kurniawan Lukminto bersama karya Affandi "Self Potrait". (Dok. Tumurun Private Museum)

Iwan Kurniawan Lukminto, pria 35 tahun ini merupakan pendiri dari Tumurun Private Museum di Kota Surakarta (Solo), Jawa Tengah yang sempat menghebohkan masyarakat dan publik seni rupa beberapa waktu lalu.

Iwan adalah Wakil Direktur dari perusahaan tekstil terbesar di Asia Tenggara, PT. Sri Rejeki Isman (Sritex). Aktivitasnya sebagai kolektor dimulai semenjak tahun 2015. Koleksi pertamanya adalah karya dari Maestro Ekspresionisme Indonesia, Affandi yang berjudul “Self Potrait” yang dibuat pada tahun 1966.

Karya ini didapatnya dari mengikuti lelang di Sotheby`s Hongkong pada tahun 2015. Iwan tertarik dengan kepiawaian teknik Affandi merangkai garis hingga meciptakan dimensi gelap-terang yang membentuk citra wajah sang maestro.

Selain Affandi juga terdapat banyak seniman penting lainnya seperti, bapak seni rupa Indonesia modern Sudjojono, Pionir lukisan abstrak Indonesia, Nashar. Hingga seniman luar negeri yang berkarya di Indonesia seperti Antonio Blanco dan Lee Man Fong.

Selain itu, ada juga karya-karya seni rupa kontemporer, seperti karya Heri Dono, seniman yang pernah mewakili indonesia dalam ajang Venice Biennale pada tahun 2003 dan 2015, karya “Floating Eyes” Wedhar Ridyadi yang menjadi karya ikonik dari ArtJog tahun lalu, serta karya dari para seniman muda seperti Rangga A Putra dan Gilang Fradika.

 

Karya Gilang Fradika, Floating Vibes, 2017-2018. (Dok. Riski Januar)
Karya Gilang Fradika, Floating Vibes, 2017-2018. (Dok. Riski Januar)

Walau masih tergolong kolektor baru, Iwan telah mengumpulkan kurang lebih 150 karya seni dan membuat sebuah museum seni rupa.

Dengan tekad nya tersebut, Iwan mendapatkan berbagai apresiasi dari publik seni rupa Indonesia. Seperti pada perhelatan pameran Bakaba #7 tahun ini, Iwan dipercaya menjadi salah satu juri untuk pemilihan karya terbaik. Selain itu dia juga sering diundang untuk membuka pameran seni rupa, salah satunya pameran “Hip Now Color” di Bentara Budaya Yogyakarta pada bulan Agustus lalu.

Iwan bukanlah kolektor “picisan”, sebelum mulai mendirikan museum dan mengoleksi karya seni, dia terlebih dahulu belajar mengenai seluk-beluk seni rupa.

“Sudah dari dulu saya suka seni rupa namun arahnya kemana itu masih belum jelas dulunya. Lalu saya bertemu dengan paman istri saya [Tirto Juwono Santoso] kebetulan beliau adalah seorang advisor, dari situ saya mulai belajar lebih lanjut mengenai seni rupa”. Ucap Iwan

Hal ini pun dapat dilihat dari karya-karya koleksi Iwan. Sebanyak 120 karya yang di pamerkan di Museum Tumurun seolah memetakan sejarah seni rupa Indonesia dari zaman penjajahan hingga saat sekarang ini.

“Kita koleksi untuk menunjukkan karya seni rupa Indonesia itu seperti apa sih dulunya, Secara historical itu seperti apa, inspirasi mereka itu dari mana. Dan memang ini untuk memberikan suatu rangkaian dari generasi seni rupa abad ke 19 sampai saat sekarang ini,” ucap Iwan.

Bukan hanya memajang karya seni rupa, museum ini juga memamerkan tiga mobil antik dari pabrikan Dodge tahun 1932 dan 1948 serta Mercedes Benz tahun 1972. Mobil-mobil ini adalah peninggalan koleksi dari mendiang H.M Lukminto yang merupakan ayah Iwan dan pendiri dari PT. Sritex.

 

Dua mobil antik bermerek Dodge tahun 1932 (Hitam) dan tahun 1948 (Krem) yang merupakan koleksi dari Tumurun Private Museum. (Dok. Riski Januar)
Dua mobil antik bermerek Dodge tahun 1932 (Hitam) dan tahun 1948 (Krem) yang merupakan koleksi dari Tumurun Private Museum. (Dok. Riski Januar)

“Tujuannya [mendirikan museum] yang pertama sih sebenarnya untuk men-display koleksi mobil kuno dari almarhum ayah saya, dimana dulu itu cuma berada di garasi, berdebu dan tidak ada yang bisa dinikmati,” Ucap Iwan

Pendirian museum Tumurun juga merupakan bentuk kontribusi Iwan terhadap masyarakat di Solo dan sekitarnya dalam hal edukasi tentang Seni Rupa. Mengunjungi museum ini sepenuhnya gratis, Iwan sadar bahwa pendidikan di Indonesia sudah tergolong mahal apalagi untuk menikmati karya seni.

“Dengan adanya museum ini saya ingin lebih berkontribusi kepada masyarakat. Apa gunanya menjadi seorang kolektor yang karya-karya nya cuma dipajang di rumah dan tidak bisa di akses publik. Saya punya visi dimana seni rupa ini bisa diapresiasi oleh masyarakat”

Mengapresiasi Seni Ke Berbagai Negara

Kecintaan Iwan terhadap seni rupa telah membawanya berpetualang ke beberapa negara untuk melihat karya seni. Iwan pernah mengunjungi Singapura, Hongkong, Tokyo, New York, Belanda dan Paris.

Salah satu museum yang dikaguminya adalah Museum of Modern Art (MoMA) di New York, Amerika Serikat.

“Saya belum menjelajahi seluruh dunia untuk melihat karya seni, dari museum yang pernah saya kunjungi, salah satu yang saya suka adalah ada MoMA di New York. Karena di sana saya melihat koleksi yang lengkap mencakup seniman-seniman penting di seluruh dunia,” Ucap Iwan.

Mengunjungi museum, galeri, dan melihat pameran seni adalah proses belajar bagi Iwan. Dia menyadari bahwa menjadi seorang kolektor seni rupa merupakan pekerjaan yang tidak gampang.

 

Salah satu karya koleksi Tumurun Private Museum, Entang Wiharso, Proper And Property, 2003 (Dok. Riski Januar)
Salah satu karya koleksi Tumurun Private Museum, Entang Wiharso, Proper And Property, 2003 (Dok. Riski Januar)

“Menjadi kolektor seni rupa itu pekerjaannya banyak, harus rajin membaca, harus sering-sering melihat karya di museum, galeri, dan pameran,” Ucap Iwan.

Walau telah melanglang buana ke berbagai negara untuk mempelajari seni rupa, iwan masih memiliki kecemasan dalam mengoleksi karya seni, terutama karya dari para seniman muda.

“Kecemasan pasti ada karena sekarang kadang-kadang kalau seniman muda ini bisa mendadak berganti arah, seperti tujuannya membuat karya lebih ke arah finansial, bukan dari pemikiran dan konsep karya. Ini yang sebenarnya membuat cemas juga, karena membuat suatu karya itu kan membutuhkan pemikiran dan energi, kalau pemikirannya sudah finansial rasanya berbeda, dia lebih terpacu karena dia ingin segera jual, jadi kerja kerasnya bukan menghasilkan karya yang bagus tapi menghasilkan karya yang banyak,” Ucap Iwan.

Konsistensi Iwan dalam mengoleksi karya seni dan mendirikan museum untuk memamerkannya patut menjadi sebuah contoh bagi para kolektor muda lainnya. Selain didasari oleh kecintaanya kepada seni, kepeduliannya terhadap masyarakat adalah sebuah tindakan terpuji yang menunjukkan bahwa seni bukanlah sebagai nilai investasi semata.