Bakcang, Membungkusnya Tricky, Filosofinya Tinggi

0
423
bakcang, pantjoran tea house
Selesai acara, para peserta "Serunya Membungkus dan Melilit Bakcang" berfoto di depan Pantjoran Tea House bersama karya masing-masing. (Foto: Denis)

Pantjoran Tea House merayakan tradisi Festival Bakcang dengan mengadakan workshop bertema “Serunya Membungkus dan Melilit Bakcang” pada Senin 11 Juni 2018 di Pantjoran Tea House, Jalan Raya Pancoran 4 – 6 Glodok, Jakarta Barat.

Suwarni Widjaja (Tjen Soen Tjau), tea specialist yang juga mahir membuat makanan Peranakan, termasuk bakcang, jadi instruktur pada acara ini. Suwarni menjelaskan, bakcang dibuat dari beras ketan yang sudah direndam semalaman, kemudian ditiriskan. Beras ketannya pilih yang sama sekali tanpa campuran beras.

Baca juga Meriah Imlek di Pantjoran Tea House

Sedangkan untuk isian ada banyak pilihan, seperti daging cincang atau daging dengan potongan besar, jamur, ebi, kuning telur asin, kacang-kacangan, dan sayur-sayuran. Ada pula yang tanpa isi. Bakcang dengan isi sayur-sayuran disebut chaicang (chai adalah sayuran) dan yang tidak berisi disebut kicang/ kwecang, biasanya dimakan bersama srikaya atau gula.

Bahan isian tersebut ditumis dengan bumbu bawang putih cincang, kecap, merica, garam, gula, dan sedikit minyak nabati.

bakcang, pantjoran tea house
Suwarni Widjaja (berdiri) memberi contoh melipat kulit bakcang kepada salah satu peserta “Serunya Membungkus dan Melilit Bakcang”. (Foto: Silvia Galikano)

Proses selanjutnya adalah membungkus dengan daun bambu yang sudah direndam air panas dan direbus terlebih dahulu.

“Cari daun yang tidak berlubang. Dua ujungnya kemudian dipotong. Untuk satu bakcang diperlukan dua lembar daun bambu yang ditumpuk, pangkal di atas pangkal, ujung di atas ujung,” Suwarni menerangkan.

Baca juga Tradisi Teh Patekoan di Pantjoran Tea House

Setelah daun diisi beras ketan dan isian, daun ditutup, lalu diikat membentuk limas yang empat sudutnya seperti tanduk.

Empat sudut itu melambangkan empat filosofi, yakni 1) Zhi zu (Merasa cukup) dengan apa yang dimiliki dan tidak boleh serakah. 2) Gan En (Bersyukur) dengan berkah dan tidak boleh iri. 3) Shan Jie (Pengertian) menilai seseorang dari sisi baik. 4) Bao Rong (Merangkul) dengan mengembangkan cinta kasih kepada sesama.

Masyarakat Tionghoa merayakan Hari Bakcang (Peh Cun) yang jatuh pada hari 5 bulan 5 penanggalan Imlek (kalender lunar). Untuk tahun ini bertepatan dengan 18 Juni 2018.

bakcang, pantjoran tea house
Peserta “Serunya Membungkus dan Melilit Bakcang” berlatih melilit bakcang agar padat dan tidak buyar saat direbus. (Foto: Denis)

Lahirnya Hari Bakcang tak lepas dari tokoh bernama Qu Yuan (340 – 278 SM), menteri besar yang dikenal tangguh dan sangat berpengaruh di negeri Chu. Dia berhasil mempersatukan enam negeri ke dalam Negeri Chu untuk menyerang Negeri Chien.

Orang-orang Negeri Chien kemudian menyerang balik dengan menyebar fitnah. Fitnah ini membuat Yuan terusir dari negerinya sendiri.

Baca juga Karnaval Cap Go Meh Penuhi Kawasan Glodok

Pada tahun 278, di pengasingan, Yuan mendengar bahwa pasukan Chien menyerbu Ying, ibukota Chu. Mendengar kabar itu, dalam amarahnya, Qu Yuan membacakan sajak berjudul Li Sao (Jatuh dalam Kesukaran) tentang cinta terhadap tanah air dan rakyatnya.

Selesai membacakan sajak, Qu Yuan berperahu ke Sungai Bek Lo lalu menceburkan diri ke dalam sungai yang berarus deras.

Baca juga Sarasvati Inisiasi Crossover Program

Penduduk desa berusaha mencari tubuh Yuan. Mereka mendayung perahu sambil memukul drum untuk menakuti-nakuti ikan dan roh-roh jahat agar tidak mengganggu tubuh Yuan.

Mereka juga melempar bakcang agar dimakan ikan sehingga ikan tidak memakan tubuh Yuan. Pelemparan bakcang juga dimaksudkan sebagai persembahan untuk roh Yuan.

Untuk mengenang jasa Qu Yuan, masyarakat Tiongkok melakukan tradisi makan bakcang, makanan yang sudah ada sejak zaman Dinasti Zhou (1046-256 SM), setiap hari 5 bulan 5. penutup_small