Korporasi Pilar Apresiasi Seni

0
218
Kukuh Nuswantoro sebagai salah satu seniman yang menerima apresiasi dari UOB Painting of the Year 2017

Apresiasi terhadap dunia seni rupa, seringkali tidak datang dari lingkaran seni itu sendiri. Beberapa di antaranya berasal dari korporasi besar yang menggelar ajang kompetisi. Bagi seniman yang menerima apresiasi, tentu menjadikan rekam jejak berkeseniannya lebih bergengsi.

Selain menghadirkan berbagai produk seni dari para kreatornya, dunia seni rupa tidak terlepas dari kompetisi dan apresiasi. Kepada sejumlah yang berbakat, apresiasi tersebut dinyatakan lewat penghargaan baik yang diberikan oleh institusi pendidikan seni rupa maupun korporasi berskala nasional hingga internasional. Beberapa korporasi yang (pernah) melakukan apresiasi tersebut adalah Philip Morris, Gudang Garam, United Overseas Bank (UOB) Indonesia, dan Bank Mandiri.

Menurut kurator Agus Dermawan T. dalam tulisan Sembilan Puluh Tahun Art Award (2015), penghargaan yang diberikan dari sebuah kompetisi menjadi hal penting dalam dunia seni rupa. Hal ini dikarenakan kompetisi memiliki enam nilai, seperti: mendorong kreativitas seniman; membuka kesempatan bagi perupa untuk tampil lebih menonjol; menjadi tolak ukur khalayak luas tentang karya yang berkualitas; menciptakan atmosfer seni bagi penikmat dan masyarakat; mengawasi jumlah seniman profesional yang aktif; dan berguna bagi portfolio seniman yang masuk ke babak final.

Dalam sejarah seni rupa Indonesia, perusahaan rokok multinasional seperti Philip Morris begitu dikenal lewat kontribusinya dalam menghelat kompetisi dan penghargaan sejak medio 90-an. Penghargaan yang dinamai Philip Morris Group of Companies Indonesia Art Award tersebut bekerja sama dengan Yayasan Seni Rupa Indonesia (YSRI) sejak 1994 hingga 2001. Dalam tujuh tahun tersebut, penghargaan Philip Morris telah disabet oleh perupa berbakat seperti Sunaryo, Hanafi, Sri Astari Rasjid, Nyoman Erawan, Galam Zulkifli, Dede Eri Supria, Agus Suwage, hingga Ugo Untoro. Setelah menguji para perupa di skala Nasional, Philip Morris membawa pemenangnya dalam penghargaan serupa namun dalam skala Asia Tenggara yang dinamai Phillip Morris Group of Companies Asean Art Award.

Alokasi dana Corporate Social Responsibility (CSR) Philip Morris untuk dunia seni rupa Indonesia sayangnya berhenti pada 2001. Tidak ada lagi sponsor utama yang menggandeng penghargaan milik YSRI tersebut. Taufiq Nur Rahman dalam tulisan “Menelusuri Wajah Yogyakarta Di Panggung Philip Morris Indonesia Art Award (1994-2000)”, menyebutkan:

“Ada dugaan bahwa CSR perusahaan tembakau dari Amerika Serikat tersebut sudah dialihkan ke bidang lain, tidak lagi di bidang kesenian (seni rupa). Ada kemungkinan lain pula, di mana setelah reformasi kebijakan politik Indonesia berubah, hal tersebut mengakibatkan Philip Morris Group of Companies mengubah strategi mereka.”

Meski tidak lagi disokong oleh Philip Morris, penghargaan tersebut masih dijalankan oleh YSRI dan namanya berubah menjadi Indonesia Art Award (IAA) pada 2003. Namun penghargaan ini mengalami kondisi mati suri dan kembali di tahun 2008, yang kemudian mencakup ranah seni yang lebih luas seperti seni patung, seni video, sound art, lukisan, grafis, maupun instalasi.

Pembukaan-pameran-Gudang-Garam-Indonesia-Art-Award-2015-di-Galeri-Nasional-yg-berjudul-Respublica_edit
Sebelum mengangkat tema komik di GGIAA 2018, karya seni seperti lukisan dan instalasi masih terlihat di GGIAA 2015.

Pada 2012, Titiek Soeharto menjabat sebagai pemimpin YSRI. Kepemimpinan Titiek dalam tubuh YSRI ini turut mengubah format IAA, dari kompetisi tahunan menjadi dua tahunan (biennale). Setahun kemudian, IAA kembali mendapatkan perusahaan rokok sebagai sponsor utamanya. Bersama PT Gudang Garam Tbk., IAA kembali merubah namanya menjadi Gudang Garam Indonesia Art Award (GGIAA) pada 2013. Saat itu GGIAA bertujuan mencari seniman yang kreatif dan inovatif, khususnya dari ranah fine art.

Pada Maret 2018 GGIAA yang ketiga digelar, setahun terlambat setelah perhelatannya yang terakhir di 2015. Bedanya, GGIAA 2018 melakukan perluasan ke arah komik dan pop art dengan mengangkat tema utama “Dunia Komik”. Perhelatan ini melihat bahwa komik kini dipandang sebagai bahasa visual yang universal dan mulai mendapatkan tempat di skala internasional. IAA 2018 menempatkan Hikmat Darmawan selaku kurator dan memilih tiga pemenang: Patra Aditia, Prabu Perdana, dan Evelyn Ghozali. Ketiganya mampu menyampaikan gagasan lewat bahasa visual dengan lugas dan cermat.

Apresiasi terhadap dunia seni rupa juga digelar oleh korporasi perbankan seperti UOB Indonesia. Sejak 2011, UOB Indonesia secara rutin mengadakan kompetisi dan penghargaan tahunan yang terbuka bagi seniman established maupun emerging. Diberi nama UOB Indonesia Painting of the Year (UOBI POY), penghargaan ini hanya memberi ruang apresiasi pada karya lukis.

Meski begitu, ajang UOBI POY dalam beberapa tahun terakhir memberi kelonggaran dan memperbolehkan para peserta untuk berinovasi dengan materi yang digunakan. Hasilnya, sebagian besar peserta secara kreatif menampilkan karya lukis semi tiga dimensi. Salah satunya seperti Right or Wrong My Home dari Gatot Indrajati, berupa lukisan semi tiga dimensi berbahan kayu yang juga menyabet penghargaan UOBI POY 2016 untuk kategori seniman profesional. Selain Gatot Indrajati, UOBI POY juga pernah dimenangkan oleh Y. Indra Wahyu, Suroso Isur, Antonius Subiyanto, Anggar Prasetyo, dan Kukuh Nuswantoro. Sedangkan pemenang UOB POY 2018 rencananya akan diumumkan sekitar bulan Oktober mendatang.

Detil karya Gatot Indrajati yang juarai UOB Painting of the Year 2016, berupa lukisan semi tiga dimensi di atas kayu.
Detil karya lukisan semi tiga dimensi Gatot Indrajati yang juarai ajang apresiasi UOB Painting of the Year 2016.

Layaknya Indonesia Art Award ketika masih berkongsi dengan Philip Morris, UOBI POY juga membawa pemenang utamanya untuk bersaing di tingkat Asia Tenggara yakni di gelaran Southeast Asian Painting of the Year. Pemenang dari UOBI POY juga digadang-gadang berpeluang mengikuti program residensi di Fukuoka Asian Art Museum, Jepang. 

Konsistensi yang dilakukan UOB Indonesia dalam dunia seni rupa sayangnya tidak bisa diikuti oleh Bank Mandiri. Pada 2015, untuk pertama kalinya Bank Mandiri menggelar Mandiri Art Award yang bertema “Spirit Membangun Negeri” dan terbuka bagi seniman lukis. Ajang tersebut mendapuk Jim Supangkat, Suwarno Wisetrotomo, Edi Sunaryo, Pahala N. Mansury, dan Arulita Adityaswara sebagai dewan juri. Dari 47 karya yang terseleksi, terpilih Revolusi Membangun hasil karya Ahmad Subandiyo sebagai juara pertama, yang diikuti oleh B(Ego) Robot dari Bambang di posisi kedua, dan Tetap Semangat dari Suraji di posisi ketiga.

Hingga tahun ini, belum terlihat rencana Bank Mandiri untuk kembali menggelar Mandiri Art Award. Meski begitu, Bank Mandiri telah memberi kontribusi lain ke dunia seni rupa Indonesia ketika menjadi sponsor utama Art Jog di tahun 2016. Di tahun yang sama, Bank Mandiri juga menggelar Mandiri Art Charity yang mengadakan lelang karya seni bagi pendidikan serta mendukung helatan Art Stage Jakarta 2016.penutup_small