Tupalo, Mata Air Seni Rupa Gorontalo

0
844
Dari kanan: Sudjud Dartanto (Kurator), Pustanto (Kepala Galeri Nasional Indonesia), dan Rachmat Gobel sedang mengapresiasi karya-karya dalam Pameran “Tupalo” di Gedung D Galeri Nasional Indonesia (doc. Galeri Nasional Indonesia-Asep)

19 seniman “Perupa Gorontalo” menggelar pameran perdananya di Galeri Nasional Indonesia. Pameran ini menampilkan keragaman dan geliat aktivisme seni rupa di Indonesia yang selama ini bersifat Jawa-sentris.

Pada 14 Agustus 2018, pameran “Tupalo” resmi dibuka di Gedung D, Galeri Nasional Indonesia (GNI). Berbagai jenis karya dipajang, mulai dari cetak grafis di atas kanvas hingga kaligrafi, ada pula instalasi kriya maupun video. Sementara itu, warna biru dan hijau terlihat mendominasi pameran. Inilah pameran “Tupalo”, yang dikuratori oleh kurator nasional Sudjud Dartanto dan Wayan Seriyoga Parta.  

Tupalo, dalam bahasa Gorontalo berarti sumber mata air; dapat pula dimaknai sebagai yang muncul kembali dan sumber kelahiran. Secara historis, kata Tupalo mengacu pada mata air di danau Limboto yang merupakan danau terluas di Gorontalo. Danau tersebut yang menjadi persamaan identitas dan pusaran berkarya para seniman.

“Tupalo adalah sumber energi kreatif seni khususnya seni rupa, sekaligus menandakan pusaran yang melahirkan kelompok perupa Gorontalo,” ujar Sudjud.

Baca juga Imaji Kampung dan Warna di Art Jakarta 2018

Pameran ini menampilkan 19 karya dengan sistem penjaringan open call. Keragaman karya juga terlihat baik dari segi teknik, aliran, dan medium, semisal kaligrafi “Bulalo Limutu” dari Mohammad Katili, komik “Legenda Lahilote” karya Mohammad Hidayat Dangkua, lukisan “Tebar Jala” karya seniman senior Suleman Dangkua hingga “Danau Emas” dari seniman diaspora Iwan Yusuf (Batu-Malang). Lagam ini di-display secara ketat dengan layout yang membentuk citra Limboto.

Salah satu karya yang menyita perhatian adalah kaligrafi “Bulalo Limuto” buatan Mohammad Katili. Sekilas memang mirip dengan seniman kelahiran Aceh, A.D Pirous, hanya saja dengan eksperimentasi bentuk 3D.  Kaligrafi emas dibuat pop-up dengan latar warna hijau samar dan lukisan dekoratif bunga eceng gondok khas danau Limoto. Kemudian, objek besar  seperti peilschale (alat kedalaman air) dilukis secara grandeur dengan beberapa atribut angka menunujukkan kondisi terkini Danau Limboto. Pada tahun 1932, danau tersebut memiliki kedalaman 15 meter dan luas 5000 meter persegi,  sedangkan pada 2012 hanya berluaskan 2500 meter persegi dengan dalam 2.5 meter. Kesan ironis semakin diperkuat dengan kaligrafi surat Al-Anbiya ayat 30 yang berarti, “Kami jadikan segala sesuatu yang hidup dari air. Apakah mereka tidak percaya?”.  Dari karya ini, sekiranya pengunjung dapat menakar sikap kritis seniman Gorontalo dalam menghadapi perubahan ataupun gejolak ekologis mengingat kedekatan masyarakat sana dengan alam sekitar.  

Mohammad Katili, Bulalo Limutu (2018), Mixed Media (doc. Rafika Lifi)
Mohammad Katili, Bulalo Limutu (2018), Mixed Media (doc. Rafika Lifi)

Sementara itu, kolektif Perupa Gorontalo sendiri merupakan kelompok seni yang terus berperan aktif membangun ekosistem kesenian serta aktivisme. Afiliasi mereka dengan ranah sastra dan performing arts banyak berpengaruh pada pembentukan estetika dan kritik seni rupa para anggotanya. Sudjud juga mengungkapkan bahwa iklim kritik sangat kencang , tapi lebih dari itu para seniman Gorontalo cukup adaptif dalam menerima aliran atau pemikiran baru. Terbukti dari pengolahan karya pada pameran Tupalo yang tidak melulu terpaku pada kanvas, tapi juga eksperimentasi pada ilustrasi digital, instalasi, dan fotografi.

Baca juga Semangat Asian Games 2018 di Pameran Koleksi Istana

Pada 2017, geliat berkarya dari Perupa Gorontalo menarik perhatian Galeri Nasional ketika mereka mengadakan pameran keliling koleksi GNI ke Gorontalo. Pada akhirnya, GNI memberikan kesempatan pada kolektif ini untuk berpameran pada 2018, bersanding dengan pameran koleksi istana. Sebelumnya, mereka juga pernah berpameran bertajuk “Lowali De Bali” di Galeri Monkey Forest, Bali pada Oktober 2017. Pameran ini memboyong sebanyak 100 karya, jumlah yang cukup masif untuk pameran kelompok.

Pada dasarnya, pameran Tupalo memberikan nuansa segar pada dunia seni rupa Indonesia. Tidak melulu menampilkan karya yang Jawa-sentris (Bandung-Jakarta-Yogyakarta), tapi juga dari beragam daerah dan pemikiran. Terlebih lagi, pemerintah juga sedang giat-giatnya membangun ekosistem seni rupa di luar Pulau Jawa, Makassar dengan Makassar Biennale-nya dan Palu yang akan dijadikan gelaran Festival Seni Media. Nantinya, tidak menutup kemungkinan bagi Gorontalo, menghelat perayaan seni rupa berskala internasional, mengingat  seniman mereka mumpuni untuk bersaing di skena seni rupa Indonesia.


TUPALO: Kelahiran Perupa Gorontalo

15—27 Agustus 2018

Gedung D. Galeri Nasional Indonesia

Jl. Medan Merdeka Tim. No.14, RT.6/RW.1, Gambir, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10110

website: http://galeri-nasional.or.id/

Instagram: https://www.instagram.com/galerinasional/?hl=en

Perupa

Akbar Abdulah  | Anang Suryana Musa  | Farlan Adrian Hasan |  Hasmah | Hartdisk | Iwan Yusuf  | Jemy Malewa | Moh. Azis Alkatiri  | Moh. Hidayat Dangkua | Moh. Rivai Katili  | Mursidah Waty | Pipin Idris | Riden Baruadi  | Ridwan Sahel | Rio N. Koni | Rizal Misilu | Suleman Dangkua  | Syam Terrajana | Tri Nur Istiyani Nurdin

Kurator

Sudjud Dartanto, Wayan Seriyoga Parta