Erizal As
Erizal As

Gajah Gallery mempersembahkan “Formless Existence” , pameran tunggal oleh perupa yang juga ketua komunitas Sakato – komunitas perupa asal Minang yang berkuliah di Jogjakarta—, Erizal As. Sebagai salah seorang seniman rising star dalam seni kontemporer Indonesia, Erizal terus membuktikan diri sebagai teladan dalam ranah potret dan abstrak.

Tolerance and Intolerance, 2019
Tolerance and Intolerance, 2019 doc: Gajah Gallery

Berangkat dari wacana artistik sebelumnya tentang identitas dan esensi kemanusiaan, pameran ini mendokumentasikan hasil introspeksi artistik sang seniman, dimana Erizal mengubah haluan dengan lebih banyak mengeksplor ide-ide akan kepunahan, korupsi dan hilangnya identitas. Dengan mempertanyakan keberadaan teisme, kebenaran, dan keadilan – nilai-nilai yang dulu dianggap sakral olehnya – Erizal mengungkapkan keprihatinannya akan kondisi umat manusia saat ini.

Pameran “Formless Existence”  adalah refleksi atas perubahan perspektif sang seniman, perubahan konsep berkarya yang berangkat dari isu-isu ketidakadilan dan keserakahan mereka-mereka yang berkuasa. Devaluasi prinsip moral yang dialami Erizal, di satu sisi ternyata menghidupkan eksistensi tanpa bentuk yang mengantarkannya ke dalam jelajah artistik yang sekarang. Namun, alih-alih sebagai manifestasi atas pengejaran ide yang sulit dipahami, pameran ini justru terfokus pada perubahan abstraksi secara halus dan bagaimana perubahan tersebut dapat diterapkan dalam konsep Formless Existence.

Untitled, 2019
Untitled, 2019 doc : Gajah Gallery

“Dalam pameran ini saya sengaja menantang eksistensi nilai-nilai tersebut. Saya mempertanyakan kelalaian orang-orang untuk mengamalkan kebajikan demi keuntungan pribadi, hal yang banyak terjadi pada mereka-mereka yang berkuasa. Fenomena korupsi dan kepunahan nilai-nilai kebaikan telah lama membebani pikiran saya. “ tukas Erizal.

Karya-karya Erizal berbicara dengan kekuatan bentuk untuk membangkitkan cerita. Ia mengartikulasikan infrastruktur bentuk dengan merancang gerakan, dan taktik untuk menyampaikan kedalaman pesan. Formless Existence menampilkan 12 karya Erizal yang melabrak batas yang dikuratori oleh Tessa Maria Guazon.

“Saya sengaja memberi makna pada cat yang tumpah di atas batas kanvas. Saya memanipulasi cat menjadi sesuatu yang menantang, suatu entitas yang memiliki keinginan sendiri. Ini bekerja berbeda dengan kerangka di sekitarnya sebagai metafora untuk batas, aturan, dan hukum yang mengikat di luar kehendak kita semua.” tambah Erizal.

Perspektif
Perspektif doc : Gajah Gallery
Neo,2019
Neo,2019 doc : Oka

Menghabiskan masa kuliah di Institut Seni Rupa Indonesia, Yogyakarta dan menjabat sebagai ketua komunitas Sakato, Erizal kini telah menjadi salah satu seniman muda yang namanya cukup dikenal dalam komunitas seni rupa. Pameran Erizal sebelumnya meliputi “Refiguring Portraiture” di Galeri Gajah Singapura, “Bakaba #5” bersama komunitas seni Sakato, “If Time Stopped” pameran kelompok di Galeri Gajah Yogyakarta, “Reborn Every Time” di Sangkring Art Space, dan Pameran Seni Kontemporer Indonesia di Beijing.

Sebagai seorang seniman asal Minangkabau yang hidup dan berkarya di Yogyakarta, konsepsi hubungan antara originalitasnya dan dunia luar membuat korelasi antar keduanya menjadi kompleks. Argumentasi inilah yang mungkin menjadi landasan Erizal untuk mempertanyakan “keberadaan non-representional” dan dengan penuh teka-teki mewacanakan “Formless Existence.”

Eksplorasi karya-karya Erizal lainnya dalam “Formless Existence : A solo exhibition by Erizal As” yang digelar di Gajah Gallery, Yogyakarta hingga tanggal 31 Agustus 2019.