Legenda Kopi dari Bandung

0
981
kopi aroma bandung
Logo Kopi Aroma. (Foto: Silvia Galikano)

Kopi Aroma

Jl Banceuy No 51 Bandung

Buka Senin – Sabtu pukul 08.00 – 16.00 WIB 

Kopi Aroma dikenal dengan kopinya yang ramah di lambung, baik itu arabika maupun robusta. Kuncinya di fermentasi biji kopi sehingga kadar asam (acidity)-nya berkurang.

Setelah dibersihkan, biji kopi akan disimpan dulu. Kopi arabika disimpan setidaknya delapan tahun, sedangkan robusta lima tahun. Alhasil, rasa kopinya lebih murni dan diharapkan tidak mengganggu kerja lambung.

Baca juga Evolusi Gelombang Budaya Kopi

Pabrik Kopi Aroma didirikan perantau dari Indramayu, Tan Houw Sian pada 1930-an di Jalan Banceuy yang merupakan kawasan Pecinan Bandung. Houw Sian sebelumnya bekerja di pabrik kopi milik Belanda.

kopi aroma bandung
Kopi Aroma di pertemuan Jalan Banceuy dan Jalan Pecinan Lama. (Foto: Silvia Galikano)

Sekarang, Kopi Aroma dikelola generasi kedua, Widya Pratama, 66 tahun, anak tunggal Tan Houw Sian dan Tjia Kiok Eng.

Widya mempertahankan proses penggilingan kopi tradisional, pemanggangan dengan mesin keluaran 1930 yang menggunakan bahan bakar kayu karet, kemasan dari kertas, serta bentuk bangunan yang bergaya kolonial.

Baca juga Yang Mana Karakter Kopimu?

Di toko yang menempati bagian depan pabrik, ditempel tulisan bahwa Kopi Aroma tidak membuka cabang, tidak menjual secara online, dan tidak membuka kafe, walau tak sedikit investor yang menawarkan membuka kafe.

kopi aroma bandung
Kopi arabika produksi Kopi Aroma. (Foto: Silvia Galikano)

Kopi arabika atau robusta disediakan dalam kemasan 250 gram dan 500 gram dalam bentuk giling halus, giling kasar, serta biji kopi utuh. Namun demikian Widya selalu menyarankan membeli kopi dalam kemasan kecil agar kopi yang dikonsumsi masih segar. Jumlah yang dibeli pun dibatasi, maksimal 5 kilogram.

Mencari untung sebesar-besarnya dalam waktu secepat-cepatnya rupanya tak masuk dalam rumus dagang Kopi Aroma.

Baca juga A Cup of Java Melintas Benua

Warung Kopi Purnama

Jl. Alkateri no. 22, Bandung

warung kopi purnama, bandung
Ruang dalam Warung Kopi Purnama. (Foto: Silvia Galikano)

Yang berikut bukanlah pabrik kopi, bukan juga penjual kopi bubuk atau kopi biji, melainkan warung kopi. Letaknya tak jauh dari Kopi Aroma dan sama legendarisnya.

Bernama Warung Kopi Purnama, didirikan pada 1930, dan sejak itu jadi tempat ngopi dan sarapan favorit di Bandung.

Baca juga Dari Afrika, Kopi Menyihir Dunia

Warung kopi di Jalan Alkateri 22 Bandung ini masih mempertahankan resep asli untuk menu-menunya. Kopi Susu, Roti Selai Srikaya, Lontong Capgomeh, Tahu Telur, dan Soto Ayam untuk menyebut beberapa menu. Dua teratas menu yang paling disukai pelanggan adalah kopi susu dan roti selai srikaya yang selainya buatan sendiri.

Lagu retro diputar lamat-lamat saja, seperti Jesamine, Daydream Believer, dan Reflections of My Life.

warung kopi purnama, bandung
Kopi susu, salah satu menu favorit pengunjung Warung Kopi Purnama. (Foto: Silvia Galikano)

Warung Kopi Purnama berdiri pada 1930 dengan nama Chang Chong Se yang berarti “Silakan Mencoba”. Pendirinya Jong A Tong, seorang Tionghoa Medan yang merantau ke Bandung pada awal abad ke-20.

Nama Chang Chong Se dipakai hingga awal 1960-an. Ketika rezim Soeharto mengeluarkan anjuran mengindonesiakan nama-nama Tionghoa, Chang Chong Se pun bersalin rupa menjadi Warung Kopi Purnama, nama yang dipakai sampai sekarang ketika ditangani generasi ke-4.

Baca juga Sedapnya Kopi, dari Curiga Anak Gembala

Warung Kopi Purnama buka tiap hari pukul 6.30 hingga 22.00. Tutup pada hari Lebaran dan Tahun Baru. penutup_small