Semangat Asian Games 2018 di Pameran Koleksi Istana

0
252
Pameran Koleksi Istana Kepresidenan yang berjudul "Indonesia Semangat Dunia" terinspirasi dari kehadiran Asian Games 2018. (Dok. GNI-Jatiari)

Pameran seni rupa ternyata ikut dirundung demam Asian Games 2018, salah satunya seperti Pameran Koleksi Istana Kepresidenan Republik Indonesia yang membawa semangat olahraga lewat 45 karya dari lima istana.

Tahun ini porsi karya old master tidaklah sebanyak pameran pertama di tahun 2016 yang menampilkan karya-karya dari Sudjojono, Raden Saleh, Affandi, Basoeki Abdullah, Hendra Gunawan, Lee Man Fong, Walter Spies, Dullah, Trubus Sudarsono, atau pun Srihadi Soedarsono. Meski begitu, pengunjung akan diajak mengenal karya seniman yang jarang terdengar namanya namun mampu merefleksikan semangat bangsa seperti Jendral Sudirman dari Joes Soepadyo juga Dr. Cipto Mangunkusumo dari Soerono Hendronoto.

Pengunjung mengamati Tak Seorang Berniat Pulang Walau Maut Menanti dari Rustamadji (Dok. Dhamarista Intan)
Pengunjung mengamati Tak Seorang Berniat Pulang Walau Maut Menanti dari Rustamadji (Dok. Dhamarista Intan)

Sejak 3 Agustus 2018, 45 koleksi istana berupa lukisan, patung dan kriya ditampilkan lewat pameran bertajuk “Indonesia Semangat Dunia” di Gedung A, Galeri Nasional Indonesia. Amir Sidharta dan Watie Moerany dipercaya sebagai kurator untuk menyeleksi koleksi dari lima istana:  Istana Kepresidenan Jakarta, Istana Bogor, Istana Tampaksiring, Istana Yogyakarta, dan Istana Kepresidenan Cipanas.

“Jadi inspirasi tema pameran ini kita lihat di dalam olahraga ada apa saja. Makna apa yang bisa kita sharing ke dalam perhelatan a la seni,” terang Amir.

Judul “Indonesia Semangat Dunia” yang merespons Asian Games 2018 akhirnya dipecah ke dalam tiga sub-tema yakni ‘Perjuangan Bangsa yang Bersatu Dalam Keragaman’, ‘Bergotong Royong, Bersama Bercipta Karya’, dan ‘Menjadi Warga Dunia Menyongsong Masa Depan’.

Perjuangan Bangsa yang Bersatu Dalam Keragaman

Patung berbahan perunggu setinggi 85 cm menyambut pengunjung seketika memasuki ruang pamer. Berjudul El Arponero atau Penombak, patung yang menampilkan sosok pria yang sigap menombak itu merupakan karya seniman Argentina Roberto Juan Carpurro. Karya tersebut merupakan hadiah Presiden Argentina Dr. Arturo Frondizi, atas kunjungan Sukarno di tahun 1959. Sukarno mengaku kagum pada karya Carpurro yang telah dilihatnya di Museum Seni La Boca dan sangat sesuai dengan semangat perjuangan yang ingin disampaikan kepada masyarakat Indonesia yang notabene adalah bangsa pelaut.

El Arponero atau Penombak, karya dari Juan Capurro. (Dok. Dhamarista Intan)
El Arponero atau Penombak, karya dari Juan Capurro. (Dok. Dhamarista Intan)

Karya yang tidak boleh dilewatkan dalam pameran ini adalah lukisan Memanah dari Henk Ngantung, yang menjadi saksi sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di rumah Pegangsaan Sukarno. Ini bukan pertama kali Memanah ditampilkan ke khalayak umum. Pada 2016, lukisan yang dibuat di atas triplek ini dipamerkan dalam keadaan yang mengkhawatirkan: kusam, kotor, dan rusak pada bagian ujungnya. Bahkan Memanah disimpan dalam sebuah kotak kaca yang tampak lebih mirip arsip sejarah ketimbang lukisan. Sedangkan di tahun ini, Memanah sudah terpajang di dinding galeri dan lebih baik kondisinya setelah direstorasi.

Aspek ‘semangat’ di sub-tema ini juga dibangkitkan lewat lukisan potret dari para pejuang kemerdekaan Indonesia. Seperti karya Pejuang dari Trubus Soedarsono yang disinyalir sebagai potret Mayor Sardjono yang memegang peranan penting dalam Serangan Umum 1 Maret 1949.

Karya Memanah dari Henk Ngantung (Dok. GNI)
Karya Memanah dari Henk Ngantung (Dok. GNI)

Di seberangnya, lukisan berukuran 137 x 296 cm dari Rustamadji memperlihatkan pejuang revolusi yang tengah migrasi ke suatu tempat. Karya tersebut diberi judul “Tak Seorang Berniat Pulang Walau Maut Menanti”. Sekilas melihatnya, kita seakan diingatkan dengan lukisan Mengungsi dari Sudjojono, yang juga menampilkan susasa Perang Revolusi. Ada pula lukisan Husni Thamrin dari Sudarso atau pun Imam Bonjol dari Harijadi Sumadidjaja.

Salah satu karya yang tidak boleh dilewatkan di pameran ini tentunya karya Perkelahian dengan Singa dari Raden Saleh Sjarif Bustaman. Sebagai pionir Seni Modern Indonesia, Raden Saleh memiliki ketertarikan kepada singa yang dinilainya asing dan tak pernah ditemui di tanah Jawa. Ia sempat mempelajari singa, harimau, dan binatang buas lainnya atas bantuan Pierre Henri Martin, seorang pawang hewan yang ditemuinya di Den Haag.

Bergotong Royong, Bersama Bercipta Karya

Lukisan potret Wage Rudolf Supratman yang digarap Karyono Js, menampilkan sosok W.R. Supratman yang berdiri sambil memegang biola dengan latar belakang bergaya mooi indie. Bersanding di sebelahnya lukisan Sarinah dari Wiwiek Soemitro menggambarkan sosok wanita berkebaya yang sedang membawa buku Sarinah yang digubah oleh Sukarno.

Sarinah karya Wiwiek Soemitro dan Wage Rudolf Supratman karya Karyon Js. (Dok. Dhamarista Intan)
Sarinah karya Wiwiek Soemitro dan Wage Rudolf Supratman karya Karyon Js. (Dok. Dhamarista Intan)

Kedua lukisan tersebut menjadi perwakilan yang pas pada sub-tema ini, karena mewakili semangat mencipta untuk kepentingan bersama. W.R. Supratman merupakan pencipta lagu kebangsaan yang menjadi simbol persatuan dan keinginan Indonesia untuk merdeka. Sedangkan Sarinah merupakan nama yang diambil Sukarno dari pengasuhnya semasa kecil, yang digunakan untuk menamai buku tentang hakikat perempuan untuk menentukan nasibnya sendiri.

Menjadi Warga Dunia Menyongsong Masa Depan

Salah satu hal yang bisa dilakukan untuk menjadi warga dunia adalah turut berkontribusi dan berkolaborasi dengan negara-negara lain guna tujuan bersama. Seperti tiga karya kriya kristal hasil kolaborasi seniman Indonesia dengan perusahaan kaca Steuben pada medio 50-an, yakni Bima dan Ular dari Basoeki Abdullah, Tarian Pura dari Agus Djaya, dan Ngaben dari Made Djata.

Karya ini sesungguhnya merupakan bagian dari seri Asian Artist in Crystal yang totalnya 36 kristal, namun hanya tiga yang menjadi koleksi istana karena dibuat oleh seniman Indonesia.

Patung Pemanah dari Seniman Hungaria Zsigmond Kisfaludi Strobl (Dok. Dhamarista Intan)
Patung Pemanah dari Seniman Hungaria Zsigmond Kisfaludi Strobl (Dok. Dhamarista Intan)

Di sub-tema ini juga terlihat jelas bagaimana ketertarikan Bung Karno terhadap olahraga memanah. Salah satunya ditampilkan pada Pemanah, yakni patung perunggu setinggi dua meter karya seniman Hungaria Zsigmond Kisfaludi Strobl yang dipesan langsung oleh Sukarno saat berkunjung ke studio Strobl di Hungaria di awal 60-an.

“Kenapa Bung Karno suka panah? Karena panah representasi senjata bangsa Timur dan Selatan, yang memiliki arti ksatriaan,” ujar Watie Moerany.

Sedangkan menurut Amir, patung ini juga dibeli Sukarno untuk dijadikan contoh kepada para pematung di Indonesia supaya menggubah patung yang berkarakter layaknya Strobl.

Sukarno, Wajah Koleksi Istana

Sebagai pameran tahunan yang telah dibuat untuk kali ketiga, karya-karya yang ditampilkan dan dilabeli sebagai koleksi istana, masih terasa sebagai pameran ‘koleksi Sukarno’ seperti tahun-tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan karena ketertarikan Sukarno kepada seni rupa yang begitu besar, sehingga banyak koleksi istana yang bertema perjuangan dan masa revolusi yang menjadi kegemaran Sukarno. Meski begitu, lewat pameran ini kita berkesempatan melihat beberapa koleksi istana yang jarang diekspos kepada publik. Sehingga, akan terus menarik untuk melihat perkembangan cerita juga riset dibalik koleksi Istana di tahun-tahun mendatang.penutup_small


Pameran Koleksi Istana Kepresidenan Republik Indonesia

“Indonesia Semangat Dunia”

Gedung A Galeri Nasional Indonesia

3-31 Agustus 2018, 14.00 – 20.00 WIB (Senin Tutup)

Registrasi online: http://bit.ly/bek-id2